UKIMUKIM

ARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi AgamaARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama

Suara dan peran perempuan di dalam peradaban manusia selalu menjadi penyeimbang bagi kekuatan dominan yang dimonopoli oleh kaum laki-laki. Suara tersebut berciri profetis, keibuan, dan merangkul yang diperhadapkan dengan kekuatan dominan yang seringkali dominatif, brutal, dan menghancurkan. Artikel ini bertujuan untuk menelisik makna episode 2 Samuel 21:1-14 yang digali dengan metode tafsir sosio-naratif dengan perspektif feminis. Dari penggalian yang dilakukan terhadap episode 2 Samuel 21:1-14 dengan Rizpa sebagai tokoh yang pasif ternyata bisa menginterupsi kebijakan politik raja Daud yang brutal dan jahat. Interupsi ini menggugah para pejuang feminis dewasa ini untuk tetap bersikap kritis bagi para pemegang kekuasaan yang pro status quo. Episode 2 Samuel 21:1-14 dianalisis pertama-tama dengan menempatkan episode ini di dalam latar sosio-politik 1 dan 2 Samuel, kemudian menganalisis peran Rizpa dari perspektif feminis, dan akhirnya melihat interupsi Rizpa sebagai model bagi suara kenabian pada masa kini.

Ketika kekuasaan menunjukkan sifat brutal dan mengabaikan nilai kemanusiaan, diperlukan suara kritis dan profetis yang mengingatkan bahwa kebijakan tersebut cenderung memperkuat status quo.Interupsi Rizpa berfungsi sebagai contoh kritik terhadap kebijakan Raja Daud yang brutal serta sebagai pengingat bagi masyarakat di luar pusat kekuasaan untuk tetap bersikap kritis.Suara profetis tersebut menjadi penyeimbang yang menuntut penghentian tindakan dan kebijakan penguasa yang tidak sesuai.

Penelitian selanjutnya dapat mengkaji bukti arkeologis dan sumber sejarah terkait Gibeon serta konteks sosial‑politik pada masa tersebut untuk memverifikasi latar historis narasi Alkitab, sehingga dapat memperkuat atau meninjau kembali interpretasi tekstual yang ada. Selanjutnya, analisis komparatif terhadap tokoh‑tokoh perempuan yang melakukan interupsi dalam kitab‑kitab lain dapat mengungkap pola umum atau perbedaan strategis, memperluas pemahaman tentang peran gender dalam narasi profetik. Akhirnya, penerapan kerangka teologi feminis pada gerakan sosial kontemporer di Indonesia, misalnya gerakan perempuan peduli atau ekofeminis, dapat menelusuri relevansi praktis model interupsi Rizpa sebagai inspirasi aksi kritis terhadap kebijakan yang menindas, sekaligus mengevaluasi dampak nyata dari pendekatan teologis tersebut dalam konteks masyarakat modern.

  1. Interupsi Rizpa: Tafsir Feminis 2 Samuel 21:1-14 | ARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. interupsi... doi.org/10.37429/arumbae.v6i1.1233Interupsi Rizpa Tafsir Feminis 2 Samuel 21 1 14 ARUMBAE Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama interupsi doi 10 37429 arumbae v6i1 1233
Read online
File size423.12 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test