INFLUENCE JOURNALINFLUENCE JOURNAL

One moment, please...One moment, please...

Aktivitas pertambangan batu bara di Provinsi Kalimantan Timur memberikan kontribusi ekonomi signifikan, namun sekaligus memicu deforestasi besar-besaran yang mengancam keanekaragaman hayati. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika dan implementasi Program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) di PT Kaltim Prima Coal (KPC) dalam mendorong pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 15 terkait Kehidupan di Darat di Kabupaten Kutai Timur. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik sampling purposive, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-struktural, dan studi dokumentasi yang melibatkan perusahaan, masyarakat lokal, dan lembaga pemerintah daerah. Analisis dilakukan menggunakan teori Triple Bottom Line (TBL), kerangka SDG 15, teori CSR, dan Perspektif Ekologis. Hasil menunjukkan bahwa PT KPC telah mengintegrasikan SDG 15 ke dalam strategi bisnis melalui prinsip Beyond Compliance, melebihi sekadar kepatuhan regulasi. Implementasi teknis berfokus pada pemulihan lahan pasca tambang menjadi kondisi aman, stabil, dan produktif melalui penyelamatan tanah permukaan dan pengembangan arboretum, yang telah berhasil memperkenalkan fauna endemik, menunjukkan pemulihan ekologis. Temuan utama penelitian ini menunjukkan sinergi saling ketergantungan antara Divisi Lingkungan dan Hubungan Eksternal, di mana kebutuhan teknis 35.000 bibit per bulan untuk reklamasi berubah menjadi program pemberdayaan ekonomi dengan melibatkan masyarakat lokal sebagai mitra strategis, mendukung Target 15.c. Selain itu, perusahaan berhasil mengubah risiko lingkungan menjadi aset keberlanjutan, seperti memanfaatkan lubang tambang untuk air bersih kota (PDAM) dan pengembangan peternakan sapi terpadu (PESAT) di lahan yang direklamasi. Studi menyimpulkan bahwa pencapaian sukses SDG 15 sangat bergantung pada keseimbangan antara支柱 Planet, Profit, dan People. Meskipun tantangan berkelanjutan dalam mengubah pola ketergantungan masyarakat menuju kemandirian, integrasi strategis program CSR dengan Rencana Pembangunan Daerah (RPD) dan jaminan hukum dari Rencana Tutup Tambang (RPT) penting untuk menciptakan nilai bersama dan memastikan kemandirian ekonomi masyarakat setelah operasi pertambangan berhenti.

Implementasi program CSR PT Kaltim Prima Coal (KPC) menunjukkan transformasi strategis dari sekadar kepatuhan regulasi menjadi komitmen keberlanjutan yang terintegrasi dengan agenda global, SDG 15.Dengan menerapkan kerangka Triple Bottom Line (TBL), perusahaan menempatkan pemulihan ekosistem darat sebagai fondasi utama untuk mencapai keseimbangan antara aspek ekonomi (Profit), sosial (People), dan lingkungan (Planet).Pendekatan ini memastikan bahwa meskipun aktivitas pertambangan menyebabkan deforestasi besar-besaran, mereka segera diimbangi oleh upaya pemulihan lahan secara terukur dan sistematis.Keberhasilan menjaga支柱 lingkungan kemudian membuka jalan untuk menciptakan nilai ekonomi baru melalui pemanfaatan produktif lahan pasca tambang.Melalui program reklamasi yang mematuhi target menghentikan degradasi lahan, PT KPC berhasil mengubah risiko lingkungan menjadi aset fungsional yang dapat digunakan oleh masyarakat dan mendukung pembentukan sektor ekonomi baru di lahan pasca tambang.Transformasi ini tidak hanya memenuhi standar teknis keamanan dan stabilitas tetapi juga mencerminkan prinsip Holism, di mana sumber daya alam dilihat sebagai komponen tak terpisahkan dari sistem pengembangan sosial-ekonomi daerah.Sinergi antara pemulihan lingkungan dan manfaat ekonomi akhirnya memperkuat支柱 sosial melalui prinsip Interdependence.Hal ini terbukti ketika kebutuhan teknis reklamasi, seperti pengadaan besar-besaran bibit lokal, diubah menjadi program pemberdayaan yang melibatkan masyarakat lokal sebagai mitra strategis.Sinergi ini menciptakan hubungan timbal balik kuat di mana keberlanjutan sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat sementara kesejahteraan masyarakat terus meningkat seiring pemulihan kapasitas lingkungan di sekitar area operasional.Akhirnya, keberlanjutan jangka panjang inisiatif ini dicapai melalui penyelarasan kebijakan perusahaan dengan Rencana Pembangunan Daerah dan Rencana Tutup Tambang.Dengan memastikan program CSR berjalan seiring visi pemerintah daerah, PT KPC berupaya membangun modal sosial dan ekonomi.Ini memastikan masyarakat tidak lagi bergantung pada aktivitas perusahaan dan dapat mengembangkan sektor ekonomi baru untuk mempertahankan ekonomi mereka setelah operasi pertambangan berhenti.Integrasi ini menunjukkan bahwa pencapaian SDG 15 bukan hanya tentang pemulihan fisik ekosistem darat tetapi juga menciptakan pengembangan berkelanjutan yang mampu menjamin kemakmuran jangka panjang bagi generasi mendatang.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi dampak jangka panjang program pemberdayaan ekonomi terhadap ketahanan ekonomi masyarakat lokal. Selain itu, studi tentang efektivitas integrasi perspektif ekologis ke dalam strategi keberlanjutan perusahaan di wilayah tambang lain bisa menjadi arah penting. Terakhir, evaluasi peran teknologi dalam meningkatkan proses reklamasi lahan pasca tambang juga layak diteliti lebih lanjut untuk memastikan keberlanjutan dan efisiensi.

Read online
File size390.36 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test