ORLIORLI

Oto Rhino Laryngologica IndonesianaOto Rhino Laryngologica Indonesiana

Latar belakang: Rinitis alergi adalah suatu kondisi inflamasi kronis pada hidung yang dimediasi oleh IgE, ditandai dengan gejala berupa kongesti nasal (hidung tersumbat), rinore (keluarnya cairan dari hidung), bersin berulang, dan gatal pada hidung. Disfungsi sistem saraf otonom merupakan faktor penting dalam patofisiologi rinitis alergi. Tujuan: Untuk mengevaluasi disfungsi sistem saraf otonom pada pasien rinitis alergi dengan menggunakan variabilitas denyut jantung (heart rate variability, HRV). Laporan kasus: Seorang wanita usia 28 tahun dengan rinitis alergi menjalani pemeriksaan heart rate variability (HRV), yang menunjukkan peningkatan aktivitas sistem saraf parasimpatis. Metode: Penelitian ini melibatkan pencarian literatur melalui PubMed, EBSCO, Scopus, dan ScienceDirect, dengan proses skrining berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Literatur yang terpilih dikaji secara kritis menggunakan kriteria Oxford Centre for Evidence-based Medicine untuk studi etiologi. Hasil: Ditemukan dua studi potong lintang yang sesuai dengan PICO dan kriteria inklusi dari laporan kasus ini. Kedua studi tersebut menunjukkan pola disfungsi sistem saraf otonom, yang ditandai dengan peningkatan aktivitas parasimpatis dan penurunan aktivitas simpatis, pada pasien rinitis alergi. Kesimpulan: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa disfungsi sistem saraf otonom berperan dalam patofisiologi rinitis alergi, sebagaimana dibuktikan oleh perubahan dalam variabilitas denyut jantung (HRV).

Disfungsi sistem saraf otonom mungkin berhubungan dengan rinitis alergi, di mana pasien cenderung menunjukkan ketidakseimbangan autonomik dengan peningkatan aktivitas parasimpatis dan penurunan aktivitas simpatik.Variabilitas denyut jantung (HRV) dapat berfungsi sebagai penanda objektif dan non-invasif untuk mendeteksi ketidakseimbangan ini.Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi temuan ini pada populasi yang lebih luas serta mengevaluasi potensi HRV sebagai biomarker klinis untuk pemantauan penyakit dan respons terapi.

Penelitian lanjutan dapat menguji hipotesis bahwa perubahan pada HRV dapat memprediksi perkembangan rinitis alergi pada desain kohort longitudinal dengan sampel besar dan beragam secara demografis, untuk menilai hubungan kausal antara disfungsi otonom dan progresi penyakit. Selanjutnya, uji intervensi klinis yang membandingkan efek terapi standar rinitis alergi dengan modulasi autonomik (misalnya biofeedback atau terapi vagal) dapat mengevaluasi apakah perbaikan keseimbangan simpatis‑parasimpatis melalui HRV berhubungan dengan penurunan gejala klinis. Terakhir, studi mekanistik yang mengintegrasikan pengukuran biomarker inflamasi (seperti CRP, IL‑4) bersamaan dengan analisis HRV dapat mengungkap jalur biologis yang menghubungkan aktivitas saraf otonom dengan respon inflamasi pada rinitis alergi.

Read online
File size415.04 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test