IDAQUIDAQU

AL ISNAD: Journal of Indonesian Hadith StudiesAL ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies

Kajian ini menganalisis sebuah hadis Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, mengenai dua perempuan dengan kondisi ibadah dan perilaku sosial yang kontras. Hadis ini menjadi pijakan penting dalam memahami keterkaitan antara ibadah ritual dan akhlak sosial, khususnya dalam konteks hak-hak tetangga (ḥuqūq al-jār) dan etika perempuan dalam masyarakat Islam. Dengan menggunakan pendekatan interdisipliner yang mencakup kritik matan, syarḥ hadis, dan analisis sosial-gender berbasis TA11, penelitian ini menemukan bahwa kesalehan dalam Islam tidak hanya diukur berdasarkan kuantitas ibadah ritual, tetapi lebih ditentukan oleh kualitas akhlak dalam kehidupan sosial. Hadis tersebut menyatakan bahwa seorang perempuan yang giat beribadah tetapi menyakiti tetangganya dijanjikan neraka, sedangkan perempuan lain yang ibadahnya terbatas namun menjaga relasi sosial dengan baik justru dijanjikan surga. Temuan ini menegaskan pentingnya paradigma kesalehan sosial profetik yang berlandaskan empati, tanggung jawab sosial, dan etika komunikasi. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam membangun ulang pemahaman mengenai kesalehan perempuan Muslim dalam konteks masyarakat kontemporer.

Berdasarkan hasil kajian terhadap hadits yang membandingkan dua perempuan dengan karakter ibadah dan perilaku sosial yang berbeda, serta melalui pendekatan kritik matan, syarḥ, dan analisis sosial-gender, penelitian ini menegaskan bahwa ibadah ritual seperti salat, puasa, dan sedekah tidak secara otomatis menjamin keselamatan akhirat jika tidak disertai akhlak sosial yang baik.Hadits tersebut menunjukkan bahwa ibadah yang tampak besar dan mencolok dapat menjadi tidak bernilai apabila diiringi perilaku yang menyakiti orang lain, khususnya tetangga, melalui lisan atau sikap.Dalam hal ini, hadits memuat kritik terhadap pemaknaan kesalehan yang semata-mata bersifat simbolik dan ritualistik, menegaskan bahwa tolok ukur kesalehan sejati terletak pada kualitas etika sosial, bukan kuantitas amal.Sosok perempuan pertama mencerminkan kesalehan formalistik yang kosong dari empati, sedangkan perempuan kedua merepresentasikan kesalehan substantif yang dibangun atas dasar ketulusan dan tidak menyakiti sesama.Selain itu, hadits ini mengafirmasi bahwa perempuan adalah subjek moral dan etika sosial yang dinilai berdasarkan kontribusinya dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah masyarakat.Kesalehan perempuan tidak hanya diukur dari intensitas ibadah, tetapi juga dari dampak positif perilaku sosialnya terhadap lingkungan, baik dalam interaksi langsung maupun di ruang digital.Pesan moral ini tetap relevan dalam konteks Muslimah kontemporer yang hidup di era interaksi urban dan dunia maya, di mana hak-hak tetangga (ḥuqūq al-jār) mencakup hubungan fisik dan virtual.Dengan demikian, hadits ini menawarkan paradigma baru kesalehan perempuan yang menempatkan kesalehan sosial sebagai tolok ukur utama, sekaligus menjadi kritik terhadap konstruksi patriarkal yang membatasi peran keagamaan perempuan hanya pada ruang domestik dan ritualistik.

Berdasarkan temuan penelitian ini, saran-saran penelitian lanjutan yang dapat diusulkan adalah: Pertama, perlu dilakukan kajian lebih mendalam tentang hak-hak tetangga (ḥuqūq al-jār) dalam konteks masyarakat modern, khususnya dalam hal interaksi digital dan media sosial. Bagaimana peran perempuan dalam menjaga etika dan akhlak dalam ruang digital, dan bagaimana dampak positifnya terhadap lingkungan sosial? Kedua, penelitian dapat difokuskan pada analisis peran perempuan sebagai agen moral dan etika sosial dalam komunitas urban. Bagaimana perempuan dapat menjadi katalisator dalam membangun harmoni sosial dan solidaritas di lingkungan perumahan atau apartemen? Ketiga, penelitian dapat mengeksplorasi lebih lanjut tentang kontribusi perempuan dalam pendidikan akhlak dan etika sosial di lingkungan keluarga dan masyarakat. Bagaimana perempuan dapat menjadi model dan pendidik dalam menerapkan nilai-nilai kemanusiaan dan empati dalam kehidupan sehari-hari?.

  1. Hijabers Community: an Effort to Create Feminine Space | Jurnal Spektrum Komunikasi. hijabers community... journal.stikosa-aws.ac.id/index.php/spektrum/article/view/54Hijabers Community an Effort to Create Feminine Space Jurnal Spektrum Komunikasi hijabers community journal stikosa aws ac index php spektrum article view 54
  2. Postmodernisme dan Perkembangan Pemikiran Islam Kontemporer | Jurnal Studi Al-Qur'an. pemikiran... journal.unj.ac.id/unj/index.php/jsq/article/view/11909Postmodernisme dan Perkembangan Pemikiran Islam Kontemporer Jurnal Studi Al Quran pemikiran journal unj ac unj index php jsq article view 11909
  3. PERAN SOSIAL PEREMPUAN DALAM ISLAM: KAJIAN HISTORIS-NORMATIF MASA NABI DAN KHULAFA’ RASYIDUN |... doi.org/10.18860/egalita.v0i0.2110PERAN SOSIAL PEREMPUAN DALAM ISLAM KAJIAN HISTORIS NORMATIF MASA NABI DAN KHULAFAAo RASYIDUN doi 10 18860 egalita v0i0 2110
Read online
File size466.27 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test