UKINSTITUTEUKINSTITUTE

Nusantara Journal of Behavioral and Social ScienceNusantara Journal of Behavioral and Social Science

Penelitian ini menguji model Teori Perilaku Rencana (TPB) yang diperluas, termasuk efek interaksi antara penentu TPB (yaitu sikap, norma subyektif/norma injunktif, kontrol perilaku yang dirasakan (PBC), dan niat), serta variabel tambahan (norma deskriptif) di antara remaja Indonesia. Studi lintas-seksional dilakukan di antara 411 remaja (Mage = 12,02 tahun, SD = 0,45, 53,3% laki-laki) dari lima sekolah swasta di daerah perkotaan dan suburban Indonesia. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang disesuaikan. Regresi Linier Berganda digunakan untuk memeriksa asosiasi dan interaksi antara penentu (sikap, norma injunktif dan deskriptif, dan kontrol perilaku yang dirasakan) dan niat mengonsumsi makanan padat energi menggunakan R 4.0.2. Analisis menunjukkan prediksi yang signifikan dari tiga penentu terhadap niat. Analisis menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam regresi terhadap niat antara norma injunktif dan deskriptif, di mana norma deskriptif lebih penting menjelaskan niat daripada norma injunktif. Hasil juga menunjukkan bahwa tidak ada interaksi dua arah yang signifikan. Norma injunktif dan deskriptif tidak memoderasi hubungan antara sikap dan niat, juga sikap sebagai moderator antara PBC dan niat. Ketiga penentu TPB dapat memprediksi niat mengonsumsi makanan padat energi. Model TPB dapat menjelaskan perilaku ini. Tampaknya menguntungkan untuk mempertimbangkan perbedaan antara norma deskriptif dan injunktif (terutama teman) yang dapat berpengaruh kuat pada niat siswa sekolah menengah untuk mengonsumsi makanan padat energi.

Temuan penelitian ini mendukung konstruk TPB yang ditemukan dapat memprediksi faktor-faktor yang mempengaruhi niat perilaku.Temuan ini menunjukkan bahwa TPB dapat digunakan untuk memprediksi niat untuk makan makanan padat energi.Niat untuk makan makanan padat energi diprediksi dengan baik oleh sikap, norma injunktif, dan PBC.Temuan ini sejalan dengan studi sebelumnya dalam literatur ini (Ajzen, 2011, Zoellner et al.Kothe & Mullan, 2015), bahwa tiga penentu (sikap terhadap perilaku, norma subyektif, dan PBC) adalah prediktor niat perilaku.Dalam investigasi niat makan remaja, sikap adalah prediktor terkuat dari niat untuk makan makanan padat energi.Temuan ini konsisten dengan studi sebelumnya di antara remaja perkotaan di Asia (Patcheep, 2015).Norma subyektif dan kontrol perilaku yang dirasakan juga berkontribusi dalam memprediksi niat remaja untuk mengonsumsi makanan padat energi.Pengukuran normatif yang digunakan dalam studi ini menunjukkan prediksi diferensial dari niat.Norma injunktif dan deskriptif adalah prediktor signifikan dari niat untuk mengonsumsi makanan padat energi.Dampak norma injunktif dan deskriptif pada niat dalam TPB mendukung penelitian lain (Conner & McMillan, 1999.McMillan & Conner, 2003) yang menunjukkan pentingnya orang lain yang dirasakan makan makanan padat energi.Studi ini juga membandingkan efek prediktif norma injunktif dan deskriptif.Hasil menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara norma injunktif dan deskriptif.Norma deskriptif lebih penting menjelaskan niat daripada norma injunktif.Hasil ini tidak sejalan dengan hipotesis kami (hipotesis 2), tetapi konsisten dengan studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa individu makan lebih banyak ketika teman makan mereka makan lebih banyak dan makan lebih sedikit ketika teman makan mereka makan lebih sedikit (misalnya Pedersen et al.Temuan ini juga konsisten dengan studi lain yang menunjukkan bahwa norma deskriptif berkontribusi pada prediksi niat secara independen dari norma injunktif (Smith & Louis, 2008.Meskipun Indonesia memiliki budaya kolektif yang cenderung mencetak skor lebih tinggi pada sensitivitas terhadap apa yang dipikirkan orang lain adalah baik atau buruk (Chen & Hong, 2015., 2015), dalam studi ini, norma deskriptif lebih memprediksi niat remaja untuk mengonsumsi makanan padat energi daripada norma injunktif.Hal ini mungkin terkait dengan fakta bahwa peserta kami adalah remaja, tahap perkembangan di mana penciptaan dan pemeliharaan citra sosial positif menjadi prioritas (Erikson, 1968).Konsisten dengan penelitian sebelumnya, perilaku makan remaja sering selaras dengan perilaku teman sebaya mereka (de la Haye et al., 2011), karena mereka berusaha untuk mendapatkan penerimaan dan cocok dengan mengikuti perilaku teman sebaya (Stok et al.Temuan saat ini, oleh karena itu, menekankan pentingnya mempertimbangkan norma deskriptif dalam promosi perilaku makan sehat.

Berdasarkan hasil penelitian ini, ada beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat diusulkan. Pertama, penting untuk mengeksplorasi lebih lanjut peran norma deskriptif dalam mempromosikan perilaku makan sehat di kalangan remaja Indonesia. Studi longitudinal dapat dilakukan untuk menyelidiki bagaimana norma deskriptif mempengaruhi niat dan perilaku makan sehat remaja dalam jangka panjang. Selain itu, penelitian dapat dilakukan untuk mengidentifikasi strategi intervensi yang efektif untuk melibatkan pemimpin sebaya sebagai model peran dalam mendorong kebiasaan makan yang lebih sehat. Kedua, studi lebih lanjut dapat dilakukan untuk menyelidiki tekanan normatif dari orang tua terhadap niat dan perilaku makan remaja. Penelitian ini dapat membantu memahami bagaimana pengaruh orang tua dapat mempengaruhi niat dan perilaku makan remaja, terutama dalam konteks budaya Indonesia yang kolektif. Terakhir, penelitian dapat dilakukan untuk mengembangkan dan menguji intervensi berbasis teori perilaku yang direncanakan (TPB) yang disesuaikan dengan konteks budaya Indonesia. Studi ini dapat membantu meningkatkan efektivitas intervensi kesehatan dan gizi di kalangan remaja Indonesia.

Read online
File size266 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test