ITSKHATULISTIWAITSKHATULISTIWA

Jurnal Apresiasi EkonomiJurnal Apresiasi Ekonomi

Konflik kerja-keluarga adalah konflik peran yang muncul di antara karyawan; di satu sisi mereka harus bekerja di kantor, di sisi lain mereka harus mengurus seluruh keluarga, sehingga sulit membedakan antara konflik kerja dan keluarga, serta konflik keluarga dan kerja. Konflik kerja-keluarga merupakan pertentangan antara peran kerja dan keluarga yang dihadapi oleh karyawan. Dalam penelitian ini, populasi ditentukan yaitu karyawan di Bank BUMN PT. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling, yang berarti tidak semua sampel dapat digunakan. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel dengan kriteria tertentu dalam penelitian. Kriterianya adalah semua karyawan wanita di Bank Milik Negara PT. Penulis menggunakan formula sampel jenuh, yaitu pengambilan sampel jika seluruh populasi digunakan sebagai sampel dan dikenal juga sebagai sensus. Hasil penelitian menunjukkan Konflik Kerja-Keluarga memiliki efek negatif dan tidak signifikan terhadap kinerja karyawan pada karyawan BUMN PT X Kota Semarang. Konflik Kerja-Keluarga memiliki efek positif dan signifikan terhadap Keseimbangan Hidup-Kerja bagi karyawan BUMN PT X Kota Semarang. Konflik Kerja-Keluarga memiliki efek positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan bagi karyawan BUMN PT X Kota Semarang. Ini berarti tingkat Konflik Kerja-Keluarga yang tinggi tidak memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap Keseimbangan Hidup-Kerja. Berdasarkan hasil uji menggunakan program aplikasi SmartPLS versi 3.2.9 (Smart Partial Least Square), dapat disimpulkan bahwa pengaruh tidak langsung pada model penelitian terdiri dari pengaruh tidak langsung variabel Konflik Kerja-Keluarga terhadap Kinerja Karyawan melalui Keseimbangan Hidup-Kerja.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa Konflik Kerja-Keluarga (WFC) memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap kinerja karyawan, namun secara positif dan signifikan mempengaruhi Keseimbangan Hidup-Kerja (WLB) pada karyawan BUMN PT X Semarang.Selanjutnya, WLB terbukti secara signifikan memediasi pengaruh WFC terhadap kinerja karyawan, menunjukkan peran krusial WLB dalam mitigasi dampak WFC.Meskipun demikian, ditemukan bahwa karyawan kesulitan menyeimbangkan waktu antara pekerjaan dan kebutuhan pribadi, serta penelitian ini memiliki keterbatasan pada ukuran sampel dan metode pengumpulan data, yang membuka ruang untuk studi mendatang.

Penelitian ini telah menyajikan wawasan berharga mengenai interaksi antara konflik kerja-keluarga, keseimbangan hidup-kerja, dan kinerja karyawan, khususnya pada konteks bank BUMN. Namun, untuk memperkaya pemahaman, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang dapat dieksplorasi. Mengingat adanya hasil yang tampaknya kontradiktif mengenai pengaruh langsung konflik kerja-keluarga terhadap kinerja karyawan – yang pada satu sisi dinyatakan negatif dan tidak signifikan, namun di sisi lain disebutkan positif dan signifikan – studi di masa depan dapat menyelidiki faktor-faktor moderasi atau mediasi lain yang lebih kompleks yang mungkin menjelaskan inkonsistensi ini, seperti peran dukungan organisasi, budaya fleksibilitas kerja, atau karakteristik demografi karyawan yang berbeda. Selain itu, dengan keterbatasan sampel hanya pada wanita karier di satu bank BUMN dan penggunaan kuesioner tertutup, penelitian mendatang dapat memperluas generalisasi temuan dengan mencakup beragam sektor industri, skala organisasi, dan komposisi gender karyawan yang lebih bervariasi. Pendekatan metode campuran, termasuk wawancara mendalam, juga akan sangat bermanfaat untuk menggali nuansa pengalaman individu terkait kesulitan dalam menyeimbangkan waktu antara pekerjaan dan kebutuhan pribadi, yang merupakan salah satu indikator dengan skor terendah dalam penelitian ini. Terakhir, mengingat rendahnya nilai R Square yang menunjukkan adanya variabel lain di luar model yang mempengaruhi kinerja karyawan dan keseimbangan hidup-kerja, penelitian lanjutan dapat mengidentifikasi dan menguji variabel-variabel eksternal tambahan, seperti tingkat stres, kepuasan kerja, atau dukungan keluarga, guna membangun model yang lebih komprehensif dan prediktif.

  1. APA PsycNet. psycnet loading doi.org/10.1037/0021-9010.85.2.232APA PsycNet psycnet loading doi 10 1037 0021 9010 85 2 232
Read online
File size398.62 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test