FMIPAUKITFMIPAUKIT

Biofarmasetikal Tropis (The Tropical Journal of Biopharmaceutical)Biofarmasetikal Tropis (The Tropical Journal of Biopharmaceutical)

Biji alpukat (Persea americana) telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional dan secara empiris dipercaya dapat menurunkan demam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antipiretik infus biji alpukat pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus) yang diinduksi pepton. Infus biji alpukat dibuat menggunakan pelarut aquades pada suhu 90 °C. Pengujian antipiretik dilakukan pada lima kelompok, yaitu kontrol negatif (Na‑CMC), kontrol positif (parasetamol), serta tiga kelompok perlakuan yang diberikan infus biji alpukat dengan dosis 100, 200, dan 300 mg/200 g berat badan. Demam diinduksi melalui injeksi intramuskular pepton 5% sebanyak 1 mL/200 g berat badan. Suhu rektal diukur setiap 30 menit selama 3 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua dosis perlakuan menurunkan suhu tubuh pada menit ke‑180. Penurunan suhu terbesar ditemukan pada dosis 300 mg/200 g berat badan sebesar 2,16 °C, sehingga dapat disimpulkan bahwa infus biji alpukat memiliki aktivitas antipiretik yang bersifat dosis‑dependent.

Penelitian ini menunjukkan bahwa infus biji alpukat (Persea americana) memiliki aktivitas antipiretik yang signifikan pada tikus putih jantan yang diinduksi dengan pepton 5%.Skrining fitokimia mengidentifikasi keberadaan senyawa sekunder seperti tanin, alkaloid, fenol, triterpenoid, dan saponin yang berpotensi menurunkan demam melalui inhibisi jalur prostaglandin.Hasil uji antipyretik dan analisis ANOVA mengindikasikan bahwa dosis 300 mg/200 g berat badan memberikan penurunan suhu yang konsisten dan setara dengan parasetamol, sehingga infus biji alpukat berpotensi menjadi agen antipyretik alami.

Penelitian selanjutnya dapat mengevaluasi efek antipyretik infus biji alpukat pada tikus betina serta pada model hewan lain untuk mengetahui adanya perbedaan respons berdasarkan jenis kelamin dan spesies, yang dapat memperluas generalisasi temuan. Selanjutnya, diperlukan studi mekanistik yang mendalam untuk mengidentifikasi jalur molekuler yang terlibat, misalnya melalui pengukuran aktivitas cyclooxygenase (COX‑1 dan COX‑2) dan kadar prostaglandin E2 pada jaringan target, sehingga dapat dipahami cara kerja senyawa aktif dalam mengurangi demam. Terakhir, penting untuk melakukan analisis toksikologi jangka panjang serta uji klinis awal pada manusia guna menilai keamanan, tolerabilitas, dan efektivitas infus biji alpukat dibandingkan dengan antipyretik konvensional, sehingga dapat mendukung pengembangan produk farmasi berbasis herbal yang aman dan efektif.

  1. DOI Name 10.1533 Values. name values index type timestamp data serv crossref email support namespace... doi.org/10.1533DOI Name 10 1533 Values name values index type timestamp data serv crossref email support namespace doi 10 1533
  2. AKTIVITAS ANTIPIRETIK DARI BEBERAPA SENYAWA AKTIF | Jurnal Buana Farma. aktivitas antipiretik senyawa... doi.org/10.36805/jbf.v1i3.159AKTIVITAS ANTIPIRETIK DARI BEBERAPA SENYAWA AKTIF Jurnal Buana Farma aktivitas antipiretik senyawa doi 10 36805 jbf v1i3 159
  3. Aktivitas Antipiretik Ekstrak Etanol Daun Beligo (Benincasa hispida (Thunb.) Cogn.) Pada Tikus | Jurnal... doi.org/10.59638/junomefar.v1i2.610Aktivitas Antipiretik Ekstrak Etanol Daun Beligo Benincasa hispida Thunb Cogn Pada Tikus Jurnal doi 10 59638 junomefar v1i2 610
  4. Inflammation, Cancer and Oxidative Lipoxygenase Activity are Intimately Linked. inflammation cancer oxidative... mdpi.com/2072-6694/6/3/1500Inflammation Cancer and Oxidative Lipoxygenase Activity are Intimately Linked inflammation cancer oxidative mdpi 2072 6694 6 3 1500
Read online
File size473.34 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test