POLTEKKESKUPANGPOLTEKKESKUPANG

JKP (Jurnal Kesehatan Primer)JKP (Jurnal Kesehatan Primer)

Komunikasi terapeutik merupakan salah satu unsur penting dalam pelayanan kesehatan karena berkontribusi pada terbentuknya kepercayaan antara tenaga kesehatan dan pasien, meningkatkan pemahaman pasien, serta menciptakan pengalaman pelayanan yang lebih berkualitas. Namun, perbedaan mutu komunikasi di berbagai fasilitas kesehatan dapat berdampak pada menurunnya kepuasan pasien dan penilaian terhadap kualitas layanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara komunikasi terapeutik dan tingkat kepuasan pasien pada wilayah pelayanan BLUD Puskesmas Woha. Metode penelitian menggunakan desain cross-sectional dan dilaksanakan di Puskesmas Woha. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik accidental sampling, sehingga diperoleh 92 responden. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner untuk menilai komunikasi terapeutik dan kepuasan pasien. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearmans rho dengan batas signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi terapeutik paling banyak berada pada kategori sedang, yaitu 45 responden (48,9%). Sementara itu, kepuasan pasien didominasi kategori rendah, sebanyak 59 responden (64,1%). Uji korelasi menghasilkan nilai r = 0,689 dengan p = 0,001. Kesimpulan: Komunikasi terapeutik memiliki hubungan yang signifikan dengan kepuasan pasien. Oleh karena itu, disarankan agar fasilitas layanan kesehatan memperkuat pelatihan komunikasi terapeutik, melakukan supervisi secara berkala, dan memasukkan indikator komunikasi dalam evaluasi kinerja pelayanan.

Berdasarkan hasil penelitian terhadap 36 responden diruang bedah RSUD Kota Bima, dapat disimpulkan bahwa.Komunikasi terapeutik perawat sebagian besar sedang sebanyak 45 (48.Tingkat kepuasan pasien sebagian besar kurang sebanyak 59 (64.Hasil uji korelasi Spearman rho menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0,689 dengan nilai p-value = 0,001, menujukkan adanya hubungan positif antara komunikasi terapeutik dengan kepuasan pasien, artinya semakin baik komunikasi terapeutik, maka semakin baik tingkat kepuasan pasien.

Untuk meningkatkan kepuasan pasien, disarankan agar fasilitas layanan kesehatan memperkuat pelatihan komunikasi terapeutik dan mengintegrasikan budaya patient-centered care dan compassionate care. Selain itu, perlu dilakukan audit pengalaman pasien berbasis instrumen yang valid untuk memetakan sumber ketidakpuasan secara spesifik pada dimensi interpersonal. Upaya peningkatan mutu layanan dapat diarahkan pada standardisasi komunikasi klinis dan penerapan teknik teach-back untuk memastikan pemahaman dan keterlibatan pasien. Penelitian selanjutnya dapat fokus pada faktor dari tenaga kesehatan dan sistem pelayanan yang mempengaruhi kepuasan pasien.

  1. Project MUSE -- Verification required!. project muse verification required order better serve keep site... doi.org/10.1353/hpu.2021.0119Project MUSE Verification required project muse verification required order better serve keep site doi 10 1353 hpu 2021 0119
Read online
File size303.54 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test