UnwahasUnwahas

Journal of Education and Sport ScienceJournal of Education and Sport Science

Sindrom nyeri myofascial merupakan gangguan luas pada sistem muskuloskeletal yang ditandai dengan titik otot hipersensitif yang menyebabkan nyeri lokal dan meluas serta mengurangi mobilitas. Meskipun tersedia berbagai pendekatan pengobatan, masih belum ada program rehabilitasi terintegrasi yang menggabungkan terapi fisik dan intervensi mobilitas terstruktur dalam kerangka empiris yang jelas. Penelitian ini bertujuan merancang program rehabilitasi yang dikombinasikan dengan shortwave diathermy serta menguji efektivitasnya dalam mengurangi intensitas nyeri dan meningkatkan jangkauan gerak pada pasien dengan sindrom nyeri myofascial. Studi menggunakan desain eksperimental dengan satu grup dan pengukuran berulang (pra‑tengah‑pasca) pada 20 partisipan pria berusia 20‑30 tahun selama delapan minggu. Analisis data dengan SPSS menunjukkan perbaikan signifikan pada indeks nyeri dan jangkauan gerak antara pengukuran pra‑dan pasca, yang mencerminkan efektivitas program rehabilitasi dalam meningkatkan status fungsional peserta.

Penelitian ini menunjukkan bahwa program rehabilitasi yang menggabungkan shortwave diathermy secara signifikan menurunkan intensitas nyeri dan meningkatkan rentang gerak bahu pada pria usia 20‑30 tahun yang mengalami myofascial pain syndrome pada punggung atas.Efektivitas program tersebut disebabkan oleh kombinasi terapi fisik yang mengurangi nyeri dan ketegangan otot dengan latihan peregangan, mobilitas, dan penguatan yang meningkatkan fleksibilitas serta fungsi gerakan.Dengan demikian, pendekatan gabungan ini dapat direkomendasikan sebagai metode rehabilitasi praktis untuk pasien dengan myofascial pain syndrome.

Penelitian lanjutan dapat menyelidiki efektivitas kombinasi shortwave diathermy dengan pelatihan kontrol motorik pada pasien wanita berusia 20‑30 tahun yang mengalami myofascial pain syndrome, untuk mengetahui apakah perbedaan gender memengaruhi hasil terapi. Selanjutnya, studi komparatif antara frekuensi penerapan shortwave diathermy, misalnya dua kali versus tiga kali per minggu, dapat membantu menentukan dosis optimal yang memberikan manfaat maksimal dengan risiko minimal. Akhirnya, diperlukan penelitian jangka panjang selama enam hingga dua belas bulan untuk mengevaluasi efek berkelanjutan program terintegrasi ini terhadap tingkat kekambuhan, kualitas hidup, dan aspek psikososial pasien, sehingga menghasilkan pedoman rehabilitasi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.

Read online
File size691.81 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test