UBTUBT

Elektrika BorneoElektrika Borneo

Pemerintah saat ini sangat memfokuskan perhatian pada pemanfaatan energi yang ramah lingkungan sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi emisi karbon, dengan target untuk mencapai net zero emission pada tahun 2060, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Paris Agreement dan juga sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) tahun 2025-2034. Salah satu strategi kunci yang diterapkan adalah penggunaan bahan bakar alternatif, yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang selama ini mendominasi sektor energi. Untuk menekan emisi dari pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara, salah satu metode yang dapat diterapkan adalah cofiring. Kebijakan ini berpotensi mempengaruhi kinerja peralatan yang ada di pembangkit, mengingat bahwa peralatan tersebut dirancang khusus untuk spesifikasi batu bara. Pada penelitian ini, dilakukan analisis dampak penggunaan biomassa terhadap peralatan utama di PLTU Sebalang dengan kapasitas 2 x 100 MW menggunakan software Aspen Plus V12.1 dengan komposisi biomassa sebanyak 5%, 10%, dan 15%, dengan woodchips sebagai jenis biomassa yang dipilih. Dari hasil simulasi didapatkan pada komposisi cofiring biomassa sebesar 15% emisi CO2 mengalami penurunan sebesar 4,43%, emisi SOx turun 12,45%, emisi NOx turun 18,42%, FGET turun 3,5% dan gross power turun 3,7%. Hasil simulasi sudah terverifikasi valid dengan data operasi PLTU saat ini pada komposisi cofiring 3% dan hasil uji performance cofiring 10% dan 20% oleh PLN Puslitbang dengan uji statistik rata-rata RMSE 8,04 MAE 8,04 dan MAPE 2,37.

Berdasarkan analisis dan simulasi menggunakan Aspen Plus V12.1 untuk cofiring biomassa di PLTU Sebalang, disimpulkan beberapa poin penting yaitu sebagai berikut.Karakteristik bahan bakar menunjukkan bahwa woodchips memiliki kadar moisture lebih rendah dibandingkan batu bara, yang meningkatkan efisiensi pembakaran energi dengan mengurangi energi yang diperlukan untuk menguapkan air.Gross Calorific Value (GCV) woodchips lebih rendah, tetapi tetap memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan sumber energi.Selain itu, woodchips mengandung volatile matter yang lebih tinggi, yang dapat meningkatkan reaktivitas dan efisiensi selama proses pembakaran.Simulasi temperatur gas buang menunjukkan penurunan sebesar 3,5% pada komposisi 85% batu bara dan 15% woodchips.Penurunan ini mengakibatkan pengurangan entalpi uap yang mengalir ke turbin, sehingga daya yang dihasilkan dari turbin berkurang sebesar 3,7%, dari 88,9 MW menjadi 84,81 MW.Ini menunjukkan adanya trade-off antara pengurangan emisi dan output energi.Terjadi penurunan emisi CO₂ sebesar 4,43%, yang mendukung upaya mitigasi perubahan iklim.

Untuk penelitian lanjutan, dapat dilakukan studi lebih mendalam tentang dampak cofiring biomassa terhadap kinerja peralatan PLTU Sebalang secara keseluruhan, termasuk analisis ekonomi dan sosial. Selain itu, perlu dipertimbangkan strategi optimalisasi penggunaan biomassa dalam cofiring untuk mencapai efisiensi energi yang lebih tinggi dan mengurangi emisi secara signifikan. Studi ini dapat dilakukan dengan menggunakan model simulasi yang lebih kompleks dan data lapangan yang lebih luas, serta melibatkan analisis biaya-manfaat dan dampak sosial. Dengan demikian, penelitian lanjutan dapat memberikan rekomendasi yang lebih komprehensif untuk implementasi cofiring biomassa di PLTU Sebalang dan pembangkit listrik lainnya.

  1. Dekarbonisasi Sektor Ketenagalistrikan Sampai 2050 Dalam Kerangka Kebijakan Energi Nasional | Yudiartono... doi.org/10.14710/jebt.2023.16966Dekarbonisasi Sektor Ketenagalistrikan Sampai 2050 Dalam Kerangka Kebijakan Energi Nasional Yudiartono doi 10 14710 jebt 2023 16966
Read online
File size510.4 KB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test