THAMRINTHAMRIN

Anakes : Jurnal Ilmiah Analis KesehatanAnakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan

Anemia merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi tinggi di Indonesia. Anemia defisiensi besi, dimana konsentrasi hemoglobin seseorang kurang dari 95% dari nilai rata-rata. Ferritin dan MCV merupakan parameter sensitif untuk anemia defisiensi besi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan hubungan antara kadar Ferritin dengan MCV pada penderita anemia defisiensi besi. Metode penelitian ini merupakan deskriptif yang menggunakan data sekunder di Laboratorium Bio Medika Gandaria Periode Januari-Juni 2024 pada 40 penderita Anemia Defisiensi Besi (ADB). Penderita ADB adalah pasien yang berdasarkan diagnosa dokter pada form pemeriksaan pasien. Penelitian ini menunjukan bahwa prevalensi pasien Anemia Defisiensi Besi berjenis kelamin Perempuan lebih tinggi sebanyak 32 pasien (80%) rata-rata kadar Ferritin senilai 14.83 ng/mL dengan rincian kadar Ferritin Rendah sebanyak 21 pasien (52.5%), Ferritin Normal 11 pasien (27.5%), Ferritin Tinggi 0 pasien (0.0%), serta kadar MCV rata-rata senilai 71.70 fL dengan rincian pasien memiliki kadar MCV Rendah sebanyak 23 pasien (57.5%), MCV Normal 9 pasien (22.5%), MCV Tinggi 0 pasien (0.0%). Hasil penelitian uji hubungan menggunakan korelasi pearson, dengan nilai koefisien hubungan p =0,020, (p <0,05), dapat disimpulkan adanya hubungan searah antara Ferritin dengan MCV, maka semakin rendah kadar Ferritin akan semakin rendah pula kadar MCV.

Penelitian pada 40 pasien anemia defisiensi besi menunjukkan 21 pasien (52,5%) memiliki kadar Ferritin rendah dan 23 pasien (57,5%) memiliki kadar MCV rendah.Analisis Pearson menunjukkan adanya hubungan searah yang signifikan antara Ferritin dan MCV (p = 0,020).Oleh karena itu, pemeriksaan Ferritin dan MCV dapat dijadikan alternatif untuk mendeteksi anemia defisiensi besi.

Penelitian selanjutnya dapat meneliti pengaruh kombinasi parameter hematologi seperti MCH, MCHC, dan hematokrit terhadap hubungan antara Ferritin dan MCV pada pasien anemia defisiensi besi, untuk memahami faktor-faktor tambahan yang mempengaruhi hasil tersebut; selain itu, diperlukan studi longitudinal yang memantau perubahan kadar Ferritin, MCV, serta parameter hematologi lainnya selama periode intervensi pemberian suplemen zat besi, guna mengevaluasi efektivitas terapi dan dinamika hubungan antar variabel seiring waktu; terakhir, dilakukan penelitian multi‑pusat dengan sampel yang lebih besar dan variasi populasi geografis untuk memvalidasi nilai ambang batas Ferritin dan MCV serta menguji generalisasi temuan di berbagai setting klinis, sehingga dapat menghasilkan pedoman diagnostik yang lebih robust dan aplikatif.

Read online
File size217.99 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test