UNDIPUNDIP

Jurnal Riset Kesehatan MasyarakatJurnal Riset Kesehatan Masyarakat

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan di Semarang. Kecamatan Ngaliyan adalah daerah endemis DBD, di mana perilaku masyarakat berperan penting dalam ketersediaan kontainer penampungan air dan keberadaan larva. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara pengetahuan dan praktik Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan bionomik vektor DBD di Ngaliyan. Menggunakan desain studi cross-sectional, sampel diambil secara purposive sampling dari 300 rumah di RW II, RW V, dan RW VI berdasarkan kasus DBD tertinggi. Variabel pengetahuan dan praktik PSN diukur dengan kuesioner, sedangkan bionomik vektor melalui lembar observasi. Analisis statistik menggunakan uji chi square. Hasil menunjukkan bahwa Kecamatan Ngaliyan berpotensi tinggi untuk penularan DBD dengan House Index (HI) 30%, Container Index (CI) 10,7%, dan Breteau Index (BI) 39,67. Dari 593 nyamuk yang teridentifikasi, 479 (80,76%) adalah Aedes aegypti. Dari 1.112 kontainer yang diperiksa, 119 positif larva, dengan bak mandi di dalam rumah menjadi tempat paling banyak ditemukan larva. Ditemukan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan tentang vektor DBD dan PSN dengan keberadaan larva (p=0,0001), serta antara praktik PSN dengan keberadaan larva (p=0,0001). Disarankan agar masyarakat secara rutin melakukan praktik PSN dengan pendampingan untuk memantau perkembangan keberadaan larva di Kecamatan Ngaliyan.

Kepadatan larva di Kelurahan Ngaliyan Kota Semarang tergolong wilayah berisiko tinggi penularan DBD dengan nilai HI 30%, CI 10,70%, dan BI 39,67.112 kontainer yang diperiksa, 119 positif larva, didominasi Aedes aegypti di bak mandi dalam rumah.Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan serta praktik Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan keberadaan larva vektor DBD di wilayah tersebut.

Untuk memperkuat upaya pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kelurahan Ngaliyan dan wilayah serupa, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang dapat dipertimbangkan. Pertama, mengingat adanya hubungan signifikan antara pengetahuan dan praktik Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan keberadaan larva, sebuah studi intervensi berbasis komunitas sangat diperlukan. Penelitian ini dapat dirancang untuk menguji efektivitas program edukasi dan mobilisasi masyarakat yang lebih terstruktur, misalnya dengan melibatkan tokoh masyarakat atau agen perubahan di tingkat RW, untuk meningkatkan pemahaman mendalam tentang siklus hidup nyamuk dan memotivasi praktik 3M Plus secara konsisten. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah intervensi spesifik, seperti pelatihan langsung tentang cara menguras bak mandi yang benar atau dorongan penggunaan larvasida secara mandiri, dapat menyebabkan penurunan drastis pada kepadatan larva. Kedua, untuk memperkaya pemahaman kita tentang bionomik vektor DBD, penelitian lanjutan dapat fokus pada studi longitudinal yang secara berkala memantau kepadatan larva dan populasi nyamuk dewasa seiring dengan perubahan kondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban, dan pola curah hujan musiman. Hal ini akan membantu mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan spesifik yang paling berpengaruh pada perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti di daerah padat penduduk seperti Kelurahan Ngaliyan, memberikan dasar bagi strategi pengendalian yang lebih responsif terhadap kondisi musiman. Ketiga, meskipun pengetahuan dan praktik telah diukur, masih banyak celah dalam implementasi PSN. Oleh karena itu, penelitian kualitatif melalui wawancara mendalam atau diskusi kelompok terarah dapat dilakukan untuk menggali lebih dalam mengenai hambatan-hambatan sosial, budaya, atau bahkan ekonomi yang menghalangi masyarakat dalam menjalankan praktik PSN secara rutin. Misalnya, mengapa beberapa metode seperti penggunaan kelambu atau abatisasi kurang diminati, atau mengapa keterlibatan dalam pemeriksaan larva di lingkungan sekitar masih rendah. Wawasan dari studi ini akan sangat krusial untuk mengembangkan program PSN yang lebih relevan, diterima, dan berkelanjutan oleh masyarakat setempat, bukan hanya mengandalkan peran kader semata, sehingga dapat meminimalkan risiko penularan DBD secara jangka panjang.

Read online
File size581.83 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test