UNIBAUNIBA

Jurnal Pendekar NusantaraJurnal Pendekar Nusantara

Bullying yang terjadi di MTsN 1 Padangsidimpuan tidak hanya terjadi antar siswa laki-laki saja, hal ini juga umum terjadi pada siswa perempuan. Namun bullying yang terjadi antar siswa laki-laki biasanya berupa bully fisik dan verbal sedangkan bullying yang biasanya terjadi antar siswa perempuan dengan verbal dan/atau melalu media sosial (cyber bully). Frekuensi pengaduan yang tinggi di madrasah menggambarkan kasus bullying sering terjadi. Terkadang kasus bully terjadi karena disengaja maupun tidak disengaja. Role play adalah campuran antara terapi conditioned refleks (reflek terkondisi) dari salter, teknik psikodrama dari Moreno, dan fixed role terapy (terapi peran tetap) dari Kelly. Pada kebanyakan role play pemeran memainkan peranannya sendiri, peran orang lain, sebuah keadaan di seputar situasi, atau rekasi-raksinya sendiri. Orang itu kemudian menerima umpan balik oleh konselor professional atau para anggota kelompok jika role play dilakukan dalam konteks kerja kelompok. Teknik ini dipilih karena membuat siswa dapat merasakan secara langsung berperan sebagai pelaku, korban maupun saksi. Sehingga emosi, perasaan dan penilaian yang positif dapat langsung dirasakan oleh siswa.

PKM ini berhasil meningkatkan pemahaman siswa tentang perilaku bullying, dengan persentase siswa yang memiliki pengetahuan kuat meningkat dari 45 % pada siklus I menjadi 51,66 % pada siklus II.Sebagian besar siswa (76,67 %) menyatakan bahwa teknik role playing dapat mereduksi perilaku bullying di sekolah dan menunjukkan antusiasme tinggi selama sesi bimbingan kelompok.Selain itu, proses role playing juga berkontribusi pada pembentukan self‑control dan kemampuan problem solving siswa.

Penelitian selanjutnya dapat menguji efektivitas teknik role playing bila dipadukan dengan pendekatan digital, seperti penggunaan aplikasi simulasi, video interaktif, atau platform pembelajaran daring, untuk melihat apakah kombinasi tersebut meningkatkan pemahaman dan penurunan perilaku bullying secara lebih signifikan dibandingkan role playing tradisional. Selain itu, studi longitudinal yang melibatkan beberapa kelas dan mengikuti perkembangan siswa selama satu tahun dapat menilai keberlanjutan perubahan sikap, self‑control, dan kemampuan problem solving yang diperoleh dari bimbingan kelompok, serta mengidentifikasi faktor‑faktor yang mempengaruhi retensi manfaat tersebut, seperti dukungan guru, keterlibatan orang tua, dan konteks sekolah. Penelitian kualitatif dengan fokus pada perspektif korban dan pelaku bullying dapat mengeksplorasi pengalaman pribadi mereka selama proses role playing, sehingga dapat mengembangkan modul bimbingan yang lebih sensitif terhadap perbedaan budaya, gender, dan tingkat keparahan bullying. Selanjutnya, percobaan intervensi yang membandingkan role playing dengan metode alternatif seperti dialog terbuka atau pelatihan empati dapat memberikan gambaran tentang keunggulan relatif masing‑masing teknik dalam meningkatkan empati dan mengurangi agresi. Akhirnya, rekomendasi kebijakan yang didasarkan pada temuan‑temuan tersebut dapat membantu sekolah merancang program anti‑bullying yang terintegrasi, berkelanjutan, dan dapat diadaptasi pada berbagai jenjang pendidikan.

Read online
File size226.57 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test