POLBANGTAN GOWAPOLBANGTAN GOWA

Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan PenyuluhanJurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan

Kopi biji salak merupakan produk inovasi UMKM Sarisa Merapi yang diolah dengan bahan baku serbuk biji salak dan kopi robusta. Kopi biji salak memiliki kandungan senyawa kimia yang bermanfaat bagi kesehatan. Namun, masyarakat belum bersedia membeli produk kopi biji salak. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengestimasi nilai WTP kopi biji salak (2) menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi nilai WTP terhadap pembelian kopi biji salak. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 50 orang yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Terdapat dua metode untuk menganalisis estimasi nilai WTP dan faktor-faktor yang memengaruhinya yaitu contingent valuation method dan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap nilai WTP kopi biji salak yaitu usia, tingkat pendidikan, pendapatan, dan kualitas. Estimasi nilai WTP kopi biji salak di UMKM Sarisa Merapi sebesar Rp11.040 per produk. Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan harga jual kopi biji salak di UMKM Sarisa Merapi sebesar Rp10.000. Temuan ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah dan lembaga terkait dalam memberikan dukungan dan pembinaan kepada UMKM untuk meningkatkan daya saing produk lokal di pasar. Peningkatan harga jual kopi biji salak yang melebihi harga jual saat ini menunjukkan adanya potensi keuntungan yang dapat diraih, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan pengusaha UMKM.

Penelitian memperkirakan nilai estimasi Willingness to Pay (WTP) untuk kopi biji salak sebesar Rp11.040 per produk, yang lebih tinggi daripada harga jual Rp10.000, dan 56% konsumen bersedia membayar lebih tinggi, menunjukkan peluang peningkatan penjualan bagi UMKM Sarisa Merapi.Analisis juga mengidentifikasi empat faktor yang berpengaruh signifikan terhadap nilai WTP, yaitu usia, tingkat pendidikan, pendapatan, dan kualitas produk.Dengan demikian, strategi pemasaran yang memperhatikan faktor‑faktor tersebut dapat meningkatkan daya saing produk kopi biji salak.

Penelitian lanjutan dapat menguji nilai willingness to pay (WTP) untuk kopi biji salak pada populasi konsumen yang lebih luas dan di wilayah lain di Indonesia untuk menilai apakah temuan pada UMKM Sarisa Merapi dapat digeneralisasi. Selanjutnya, studi dapat meneliti pengaruh desain kemasan, merek, dan strategi promosi terhadap persepsi kualitas dan keputusan pembelian, sehingga dapat mengidentifikasi elemen visual yang paling meningkatkan WTP. Penelitian ketiga dapat membandingkan preferensi konsumen terhadap variasi produk kopi biji salak, seperti kopi ready‑to‑drink, kopi bubuk, dan kopi kapsul, serta menguji bagaimana rasa, aroma, dan kandungan antioksidan memengaruhi kesediaan membayar. Selain itu, pendekatan kualitatif dapat digunakan untuk memahami motivasi konsumen yang memilih kopi biji salak sebagai produk kesehatan, sehingga memberikan insight bagi pengembangan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar. Akhirnya, analisis longitudinal dapat menilai perubahan WTP seiring waktu setelah intervensi pemasaran atau peningkatan kualitas produk, memberikan gambaran dinamika nilai konsumen dalam jangka panjang.

Read online
File size476.59 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test