MPUKUTURANMPUKUTURAN

Edukasi: Jurnal Pendidikan DasarEdukasi: Jurnal Pendidikan Dasar

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konstruksi nilai karakter melalui satua “I Siap Badeng dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu (PAH) di SD Negeri 3 Banjar Jawa, Buleleng. Penelitian dilatarbelakangi oleh potensi besar folklor Bali sebagai sumber kearifan lokal yang belum dimanfaatkan secara optimal dalam pembelajaran PAH yang cenderung tekstual. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan guru Pendidikan Agama Hindu, siswa, dan tokoh adat, serta analisis dokumen satua. Analisis data mengikuti model Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, satua “I Siap Badeng mengandung nilai-nilai karakter yang selaras dengan ajaran Hindu, antara lain kepatuhan anak kepada orang tua, kecerdikan dan kewaspadaan, hukum karma phala, serta gotong royong. Kedua, proses konstruksi nilai terjadi melalui siklus tiga fase: (a) penyajian dan imersi emosional untuk membangkitkan moral feeling; (b) eksplorasi dan negosiasi makna melalui dialog reflektif untuk membangun moral knowing; (c) refleksi dan aplikasi diri untuk mendorong moral action. Ketiga, muatan dan penyajian satua sesuai dengan tahap perkembangan kognitif operasional konkret (Piaget) dan tahap moral pra‑konvensional hingga konvensional (Kohlberg) siswa sekolah dasar. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa satua “I Siap Badeng merupakan wahana pedagogis yang strategis, kontekstual, dan transformatif. Keberhasilan integrasinya memerlukan pengembangan modul berjenjang, pelatihan guru, dan kolaborasi dengan tokoh adat.

Satua I Siap Badeng mengandung nilai karakter yang selaras dengan ajaran Hindu, seperti kepatuhan, kecerdikan, kewaspadaan, karma, tanggung jawab, keberanian, gotong royong, dan kritik sosial humor.Proses konstruksi nilai terjadi melalui siklus tiga fase.penyajian dan imersi emosional, eksplorasi dan negosiasi makna, serta refleksi dan aplikasi diri, yang sangat bergantung pada peran guru sebagai fasilitator.Muatan satua sesuai dengan tahap perkembangan kognitif operasional konkret dan tahap moral pra‑konvensional hingga konvensional, sehingga dapat digunakan secara berjenjang dari kelas I hingga VI sebagai media internalisasi nilai.

Penelitian selanjutnya dapat menguji efektivitas platform digital yang mendukung storytelling satua I Siap Badeng dalam meningkatkan nilai karakter siswa pada berbagai tingkat kelas, dengan membandingkan hasil belajar antara kelas yang menggunakan media digital dan yang hanya mendengarkan dongeng tradisional. Selain itu, studi longitudinal dapat meneliti dampak program pelatihan guru yang berfokus pada pedagogi budaya terhadap keberhasilan implementasi satua dalam kurikulum PAH, mengukur perubahan dalam kompetensi guru serta konsistensi penggunaan metode selama beberapa tahun. Penelitian lain dapat mengeksplorasi peran tokoh adat sebagai co‑facilitator dalam sesi satua, mengkaji apakah keterlibatan mereka meningkatkan kemampuan murid dalam penalaran moral dibandingkan dengan pendekatan yang dipandu guru saja, serta menilai bagaimana kolaborasi tersebut mempengaruhi persepsi siswa terhadap nilai lokal dan identitas budaya mereka.

Read online
File size251.96 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test