ARITEKINARITEKIN

Konstruksi: Publikasi Ilmu Teknik, Perencanaan Tata Ruang dan Teknik SipilKonstruksi: Publikasi Ilmu Teknik, Perencanaan Tata Ruang dan Teknik Sipil

Abstrak. Era transisi energi yang digagas pemerintah Indonesia melalui kebijakan strategis, seperti Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) dan target Net Zero Emission 2060, telah memberikan dampak signifikan terhadap keberlanjutan industri minyak dan gas bumi (migas). Kebijakan ini mendorong industri migas untuk mengadopsi teknologi rendah karbon, diversifikasi energi, dan meningkatkan efisiensi operasional. Perusahaan migas besar seperti Pertamina dan MedcoEnergi telah memulai transformasi, termasuk investasi dalam energi terbarukan seperti bioenergi, tenaga surya, dan proyek hidrogen. Teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) juga menjadi solusi utama untuk mengurangi emisi dari operasi migas. Namun, transisi ini menghadapi tantangan besar, seperti kebutuhan investasi tinggi, ketidakpastian regulasi, dan persaingan dengan energi terbarukan. Meskipun demikian, kebijakan pemerintah terbukti mendorong inovasi dan mempercepat integrasi industri migas ke dalam ekonomi rendah karbon[1]. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dampak kebijakan pemerintah terhadap keberlanjutan industri migas di Indonesia serta memberikan gambaran peran strategis sektor migas dalam mendukung transisi energi nasional.

Sektor migas tetap menjadi kontributor utama terhadap pendapatan negara meskipun menghadapi tantangan transisi energi.Volatilitas harga minyak memengaruhi pendapatan fiskal dan memerlukan kebijakan yang responsif.Transisi energi menuju energi bersih perlu dipercepat untuk mengurangi ketergantungan pada fosil dan mendukung keberlanjutan ekonomi.Diversifikasi energi dan pengembangan teknologi seperti CCS/CCUS menjadi kunci keberlanjutan sektor migas di era transisi energi.

Pertama, penelitian tentang dampak insentif pemerintah terhadap adopsi energi terbarukan di sektor migas dapat memberikan wawasan strategis untuk mempercepat transisi energi. Kedua, analisis jangka panjang mengenai efek ekonomi transisi ke teknologi rendah karbon perlu dilakukan untuk memahami tantangan dan peluang yang muncul. Ketiga, studi komparatif mengenai kerangka regulasi transisi energi di negara-negara lain dapat membantu merancang kebijakan yang lebih efektif dan adaptif terhadap dinamika pasar global.

  1. Peran Negara G20 dalam Percepatan Transisi Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk Mewujudkan Ketahanan Energi... doi.org/10.22146/jkn.88751Peran Negara G20 dalam Percepatan Transisi Energi Baru Terbarukan EBT untuk Mewujudkan Ketahanan Energi doi 10 22146 jkn 88751
  2. Pengaruh Kebijakan Pemerintah terhadap Keberlanjutan Industri Migas di Era Transisi Energi | Konstruksi:... doi.org/10.61132/konstruksi.v3i1.680Pengaruh Kebijakan Pemerintah terhadap Keberlanjutan Industri Migas di Era Transisi Energi Konstruksi doi 10 61132 konstruksi v3i1 680
  3. MANAJEMEN GREEN INDUSTRY DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEAMANAN LINGKUNGAN | JAMI: Jurnal Ahli Muda Indonesia.... doi.org/10.46510/jami.v4i2.160MANAJEMEN GREEN INDUSTRY DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEAMANAN LINGKUNGAN JAMI Jurnal Ahli Muda Indonesia doi 10 46510 jami v4i2 160
  4. Tantangan dan Peluang Pembangunan Proyek Pembangkit Listrik Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia... jurnal.itpln.ac.id/sutet/article/view/1575Tantangan dan Peluang Pembangunan Proyek Pembangkit Listrik Energi Baru Terbarukan EBT di Indonesia jurnal itpln ac sutet article view 1575
  1. #pasar global#pasar global
  2. #harga minyak#harga minyak
Read online
File size1.01 MB
Pages10
Short Linkhttps://juris.id/p-1iE
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test