POLBANGTANBOGORPOLBANGTANBOGOR

Jurnal Penyuluhan PertanianJurnal Penyuluhan Pertanian

Jumlah petani kecil atau petani gourem di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun, dari 18,5% menjadi 14,2 juta petani pada tahun 2023, meningkat menjadi 16,89 juta petani (Badan Pusat Statistik 2023). Kondisi ini menyebabkan petani mengalami kesulitan dalam mengakses teknologi, informasi, modal, dan pasar, yang pada akhirnya berdampak pada produktivitas dan kesejahteraan mereka yang rendah (Debelo, 2024; De la Peña dan Granados 2024). Akses terbatas ini membuat petani rentan terhadap fluktuasi harga dan risiko lainnya. Jika hal ini terus berlanjut, akan mengakibatkan petani terjebak dalam siklus kemiskinan. Untuk mengatasi masalah ini, petani kecil diharapkan bekerja sama secara kolektif dalam forum organisasi petani agar memiliki kekuatan tawar dan kemampuan untuk mengakses input dan teknologi dengan baik (Chauhan, Adhikary, dan Pradhan 2021; Royer, Bijman, dan Abebe 2017).

Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan korporasi petani sangat bergantung pada efektivitas jaringan komunikasi dan keterlibatan pemangku kepentingan secara berkelanjutan.Peran pemangku kepentingan seperti pemerintah, universitas, sektor swasta, lembaga keuangan, dan agen perubahan memiliki kontribusi yang beragam, tetapi belum sepenuhnya sinergis.Petani sukarelawan telah terbukti menjadi aktor kunci dalam memperkuat jaringan informasi di tingkat lokal.Petani yang menempati posisi sentral dalam jaringan komunikasi dari dimensi tingkat sentralitas derajat, sentralitas kedekatan, dan sentralitas perantara cenderung memiliki kapasitas yang lebih besar untuk mengakses dan menyebarkan informasi yang bersifat teknis dan strategis, terutama terkait aspek produksi.Sebaliknya, petani dengan tingkat konektivitas rendah dalam jaringan lebih terbatas dalam mengakses dan bertukar informasi yang bersifat praktis dan umum, seperti informasi tentang pemasaran.Uji hipotesis menunjukkan bahwa faktor internal petani tidak memiliki efek yang signifikan terhadap jaringan komunikasi, sedangkan dukungan pemangku kepentingan memiliki korelasi negatif yang signifikan, yang mencerminkan kesenjangan antara dukungan yang diberikan dan efektivitas jaringan yang terbentuk.

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk menerapkan strategi koordinasi lintas sektoral agar dukungan pemangku kepentingan tidak terfragmentasi dan tepat sasaran. Transformasi komunikasi berbasis teknologi digital perlu diperluas untuk memperkuat konektivitas dan adopsi inovasi. Peningkatan kapasitas literasi digital dan pemberdayaan aktor lokal harus menjadi prioritas agar petani mampu mengakses dan menyebarkan informasi strategis. Kooperatif dan unit bisnis yang dibentuk perlu didampingi secara intensif, tidak hanya dari aspek legal-formal, tetapi juga dalam pengelolaan, manajemen bisnis, dan pembangunan jaringan kemitraan.

  1. Urgency of Social Capital to Improve the Resilience of Independent Oil Palm Farmers in Managing Oil Palm... rgsa.openaccesspublications.org/rgsa/article/view/5103Urgency of Social Capital to Improve the Resilience of Independent Oil Palm Farmers in Managing Oil Palm rgsa openaccesspublications rgsa article view 5103
  2. The Role of Stakeholders in Strengthening Communication Networks to Foster Farmers’ Economic Institutions... jurnal.polbangtan-bogor.ac.id/index.php/jpp/article/view/1071The Role of Stakeholders in Strengthening Communication Networks to Foster FarmersAo Economic Institutions jurnal polbangtan bogor ac index php jpp article view 1071
Read online
File size324.11 KB
Pages21
DMCAReport

Related /

ads-block-test