ISI DPSISI DPS

Mudra Jurnal Seni BudayaMudra Jurnal Seni Budaya

Petirtaan Jolotundo merupakan salah satu petirtaans (tempat mandi suci) di Gunung Penanggungan yang dikenal sebagai situs warisan arkeologi dengan tanggal tercatat tertua di wilayah Gunung Penanggungan—899 Saka atau 977 Masehi. Di dalam petirtaan terdapat ukiran di dinding timur yang menonjol secara visual dan ditulis dalam aksara Jawa Kawi, berisi kata Gempeng dan angka 899. Penelitian ini bertujuan mengungkap identitas budaya Petirtaan Jolotundo melalui interpretasi dua ukiran tersebut. Penelitian dilakukan di lokasi Petirtaan Jolotundo di Seloliman, Mojokerto, menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus, dengan teknik pengumpulan data berupa tinjauan pustaka dan wawancara. Analisis data diikuti pendekatan kualitatif interpretatif menggunakan teori kritik wacana Norman Fairclough, yang mencakup tiga level: analisis teks, praktik wacana, dan praktik sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukiran Gempeng dan 899 berfungsi sebagai penanda budaya yang mengungkap identitas Petirtaan Jolotundo dan komunitas Jawa Kawi. Ukiran-ukiran ini menyoroti peran komunitas dalam membentuk dan memelihara nilai budaya situs tersebut lintas generasi.

Ukiran kata Gempeng dan angka 899 di Petirtaan Jolotundo memperlihatkan identitas budaya dan kekuatan politik melalui diskursus monumental, menanamkan otoritas elite ke dalam lanskap suci situs.Melalui kerangka analisis wacana kritis Fairclough, studi ini mengungkap bagaimana ukiran berfungsi sebagai alat diskursif untuk mengkodekan makna ideologis, ritual, dan dinasti bagi yang menemui.Ukiran ini menegaskan legitimasi kekuasaan, ideologi, identitas budaya, dan agama, yang bersama-sama membentuk dan mempertahankan nilai penting Petirtaan Jolotundo bagi generasi sekarang dan masa depan.

1) Bagaimana peran alat komunikasi non‑verbal (seperti ukiran) dalam menyampaikan nilai budaya di era digital, terukur melalui survei persepsi penduduk lokal dan wisatawan yang mengunjungi Petirtaan Jolotundo? 2) Sejauh mana keterlibatan komunitas penduduk Lembah Nangsing dalam pelestarian dan interpretasi ukiran Gempeng dan 899 dapat memotivasi inovasi pelestarian budaya berbasis partisipatif, serta dampaknya pada identitas lokal? 3) Apa hubungan antara penggunaan bahasa Jawa Kawi pada ukiran Petirtaan dengan pola migrasi dan pertukaran budaya di Jawa Timur pada abad ke‑10, yang dapat dieksplorasi melalui analisis linguistik komparatif dengan artefak serupa di wilayah sekitarnya?.

  1. Questioning power and identity | LITE: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya. questioning power identity... doi.org/10.33633/lite.v21i1.11824Questioning power and identity LITE Jurnal Bahasa Sastra dan Budaya questioning power identity doi 10 33633 lite v21i1 11824
  2. Script Journal. ver nadiem makarim speech critical discourse analysis national education day script journal... jurnal.fkip-uwgm.ac.id/index.php/Script/article/view/1024Script Journal ver nadiem makarim speech critical discourse analysis national education day script journal jurnal fkip uwgm ac index php Script article view 1024
Read online
File size3.58 MB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test