UNUSIDAUNUSIDA

Journal of Computer Science and Visual Communication DesignJournal of Computer Science and Visual Communication Design

Artikel ini bertujuan menganalisis simbol dalam lukisan Konoha 1 karya Yos Suprapto, yang menggambarkan ketimpangan kekuasaan dan ketidakadilan sosial di Indonesia setelah pameran karya ini dibatalkan oleh Galeri Nasional Indonesia pada Desember 2024 karena dianggap kontroversial. Penelitian ini mengeksplorasi tiga permasalahan utama: 1) bagaimana simbolisme visual dalam Konoha 1 menunjukkan hierarki kekuasaan; 2) pesan sosial-politik yang terkandung dalam simbolisme tersebut; dan 3) bagaimana analisis wacana kritis Norman Fairclough dapat mengungkap hubungan antara seni dan kekuasaan dalam konteks sosiopolitik Indonesia. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan Critical Discourse Analysis (CDA) untuk menelaah elemen visual warna, garis, komposisi dan wacana terkait simbolisme kekuasaan dalam lukisan.

Lukisan Konoha 1 memvisualisasikan penguasa yang menindas rakyat kecil, mencerminkan otoritarianisme, dominasi militer, dan ketidaksetaraan struktural di masyarakat.Studi ini menegaskan bahwa seni kontemporer tidak sekadar objek estetis, melainkan aktor politik yang memfasilitasi diskursus publik dan mendorong perubahan sosial.Dengan menempatkan Konoha 1 dalam konteks seni kritis Indonesia, karya seni ini menjadi alat perlawanan terhadap struktur kekuasaan otoriter dan memperkaya wacana akademik mengenai hubungan seni dan politik di era demokrasi kontemporer.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi dampak visualisasi kekuasaan terhadap persepsi publik dalam konteks media digital, misalnya dengan survei online berbasis gambar lukisan Konoha 1 untuk memahami bagaimana simbolisme memengaruhi penilaian kebijakan pemerintah. Selanjutnya, studi komparatif dapat membandingkan karya Yos Suprapto dengan lukisan kritis lain di Asia Tenggara guna mengidentifikasi pola simbolis yang melintasi batas budaya dan menilai bagaimana seni memperkuat atau melemahkan narasi otoritarian. Akhirnya, penelitian dapat meneliti interaksi antara penulis, kurator, dan pengamat seni dalam proses kuratorial di galeri nasional, guna mengembangkan model kerjasama yang transparan tentang kebijakan publik seni sekaligus menjaga kebebasan berekspresi.

  1. Prostorno planiranje i politička moć. prostorno planiranje politi ka scindeks-zbornici.ceon.rs/Article.aspx?artid=proc-00172404406QProstorno planiranje i politiyEAska moyEAN prostorno planiranje politi ka scindeks zbornici ceon rs Article aspx artid proc 00172404406Q
  2. OSF. osf osf.io/ey6ng_v1OSF osf osf io ey6ng v1
  3. Tanggungjawab Pemerintah dan Kesenjangan Sosial Dalam Pendidikan | ADIL Indonesia Journal. pemerintah... jurnal.unw.ac.id/index.php/AIJ/article/view/2404Tanggungjawab Pemerintah dan Kesenjangan Sosial Dalam Pendidikan ADIL Indonesia Journal pemerintah jurnal unw ac index php AIJ article view 2404
  4. Political Dynasties: Threats or Contributions to Democracy | HISTORICAL: Journal of History and Social... doi.org/10.58355/historical.v3i3.118Political Dynasties Threats or Contributions to Democracy HISTORICAL Journal of History and Social doi 10 58355 historical v3i3 118
  5. The Regulation of Articles on State Institutional Insults to The Right to Freedom of Expression in Indonesia:... doi.org/10.30872/mulrev.v8i1.1122The Regulation of Articles on State Institutional Insults to The Right to Freedom of Expression in Indonesia doi 10 30872 mulrev v8i1 1122
Read online
File size667.54 KB
Pages17
DMCAReport

Related /

ads-block-test