UmriUmri

Photon: Jurnal Sain dan KesehatanPhoton: Jurnal Sain dan Kesehatan

Senyawa calkon merupakan flavonoid rantai terbuka dengan cincin aromatik yang dihubungkan oleh tiga atom karbon dengan system α, β karbonil keton tidak jenuh. Calkobn juga merupakan senyawa antara untuk membuat senyawa lain salah satunya adalah benzotiazepin. Benzotiazepin adalah senyawa heterosiklik yang mengandung nitrogen dan sulfur. Hasil uji aktivitas anti radikal bebas dari senyawa calkon Y1 dan senyawa benzotiazepin Bt1 memperlihatkan aktivitas yang sangat lemah, ditandai dengan nilai IC50 yang lebih besar dari 1000 ppm jika dibandingkan dengan standar yang digunakan yaitu vitamin C dengan nilai IC50 33,539 ppm. Hal ini mungkin disebabkan karena tidak adanya substituen ataupun gugus yang dapat menyumbangkan proton pada kedua senyawa hasil sintesis sehingga menyebabkan kedua senyawa tersebut tidak aktif sebagai antiradical bebas.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kedua senyawa calkon dan benzotiazepin tidak aktif sebagai antioksidan.Ketidakaktifan ini disebabkan oleh tidak adanya substituen ataupun gugus yang dapat menyumbangkan proton pada kedua senyawa hasil sintesis.

Mengingat hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan aktivitas antiradikal bebas yang sangat lemah pada senyawa calkon Y1 dan benzotiazepin Bt1 karena ketiadaan gugus penyumbang proton, penelitian lanjutan yang krusial adalah dengan secara sistematis menginvestigasi dampak penambahan gugus-gugus fungsional yang dikenal sebagai pendorong elektron, seperti hidroksil atau metoksi, pada posisi strategis dalam kerangka dasar kedua senyawa. Hipotesis utamanya adalah bahwa modifikasi struktural semacam ini akan secara signifikan meningkatkan kemampuan senyawa untuk menetralkan radikal bebas, memberikan wawasan mendalam tentang hubungan struktur-aktivitas yang spesifik untuk sifat antiradikal. Selain itu, berdasarkan literatur yang luas mengenai potensi berbagai aktivitas biologis senyawa calkon dan benzotiazepin, terdapat peluang besar untuk mengeksplorasi spektrum aktivitas lain dari senyawa yang telah disintesis, atau analognya yang dimodifikasi. Fokus dapat diarahkan pada pengujian antibakteri, antijamur, atau bahkan antikanker, terutama untuk senyawa yang mungkin tidak efektif sebagai antioksidan namun memiliki fitur struktural yang menarik untuk target biologis lainnya. Terakhir, untuk mempercepat penemuan kandidat senyawa yang lebih efektif, disarankan untuk mengintegrasikan pendekatan komputasi, seperti studi in silico dan pemodelan QSAR (Quantitative Structure-Activity Relationship), guna memprediksi dan memvalidasi desain molekul baru. Metode ini dapat membantu mengidentifikasi pola hubungan antara fitur struktural dan aktivitas biologis yang diinginkan sebelum melakukan sintesis laboratorium, sehingga menghemat waktu dan sumber daya dalam pengembangan obat.

Read online
File size357.6 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test