UIGMUIGM

Besaung : Jurnal Seni Desain dan BudayaBesaung : Jurnal Seni Desain dan Budaya

Berbicara mengenai keragaman suku bangsa, di Kalimantan Barat terdapat suku bangsa Melayu yang diantaranya tersebar di berbagai daerah, salah satunya adalah suku Melayu di Kabupaten Sambas yang dikenal dengan sebutan suku Melayu Sambas. Menurut masyarakat setempat, Saprahan berarti tingkah laku yang baik atau kebersamaan yang tinggi. Tradisi ini mewujudkan semangat duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Saprah sendiri berarti berhampar, yaitu budaya makan bersama, duduk bersila atau bersila berkelompok dalam barisan yang sama. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data utama penelitian diperoleh melalui observasi dan wawancara, studi kepustakaan, dokumen dan arsip yang berkaitan dengan obyek kajian. Teknik analisis data pada riset ini menerapkan analisis data berupa data kualitatif. Analisis data kualitatif ini dapat bersifat induktif, yaitu analisis berdasarkan informasi yang diperoleh baik dari wawancara atau pengamatan penelitian yang dilakukan. Sebagaimana tradisi Saprahan yang masih di jaga dan dilaksanakan hingga saat ini. Tradisi Saprahan adalah semacam akulturasi budaya lokal dan budaya Islam di Kalimantan Barat. Kesadaran akan konten dalam hal pemahaman budaya lokal yang memiliki nilai utama untuk memperkuat kearifan lokal dengan berbalut kebudayaan Islam yang disesuaikan dengan adat dan tradisi lokal dalam tingkat kesetaraan yang tumbuh berkembang pada masyarakat melayu Sambas di Kalimantan Barat. Nilai budaya dalam kearifan lokal ini tampak jelas menjadi gambaran pada kegiatan tradisi Saprahan yang masih ada hingga saat ini di wilayah Kalimantan Barat, terutama di desa Teluk Keramat Kabupaten Sambas.

Tradisi Saprahan merupakan bentuk budaya makan bersama yang menegakkan kesetaraan di masyarakat Melayu Sambas.Kegiatan ini menekankan kepentingan gotong‑royong, sopan santun, dan nilai religius melalui pola kesetaraan duduk dan berdiri.Melalui praktik ini, masyarakat dapat memperkuat identitas budaya lokal sekaligus meresapi nilai keagamaan dan sosial yang mendukung solidaritas komunitas.

Bagaimana peran tradisi Saprahan dalam memperkuat keidentitasan generasi muda Melayu Sambas, apakah faktor sosialisasi keluarga dan lembaga pendidikan dapat mempengaruhi persepsi mereka terhadap nilai gotong‑royong dalam tradisi ini? Sejauh mana integrasi praktik Saprahan dengan kegiatan pernikahan modern dapat menjaga keberlanjutan tradisi tanpa menghilangkan unsur kearifan lokal? Bagaimana dampak digitalisasi media sosial terhadap penyebaran dan adaptasi tradisi Saprahan, dan apakah strategi komunikasi mulut ke mulut tradisional masih relevan bagi generasi digital?.

  1. DUDUK SAMA RENDAH, BERDIRI SAMA TINGGI Nilai-Nilai Budaya Nelayan & Petambak di Sambas, Kalimantan... ejournal.undip.ac.id/index.php/sabda/article/view/13259DUDUK SAMA RENDAH BERDIRI SAMA TINGGI Nilai Nilai Budaya Nelayan Petambak di Sambas Kalimantan ejournal undip ac index php sabda article view 13259
Read online
File size753.22 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test