UNIVMEDUNIVMED

Universa MedicinaUniversa Medicina

Efusi pleura diklasifikasikan menjadi eksudat dan transudat berdasarkan kriteria Light. Kekurangan kriteria Light adalah kesalahan mengklasifikasi transudat sebagai eksudat sekitar 20%. Tujuan penelitian ini adalah menentukan parameter laboratorium yang valid untuk membedakan eksudat dan transudat pada efusi pleura. Sebuah studi observasional untuk evaluasi uji diagnostik dilakukan di instalasi gawat darurat RS Persahabatan Jakarta antara bulan September 2010 – Desember 2011. Uji diagnostik dilakukan pada 119 pasien efusi pleura. Cairan pleura dan serum digunakan untuk memeriksa laktat dehidrogenase (LDH), protein total, kolesterol dan albumin. Diagnosis klinik penyebab efusi pleura digunakan sebagai baku emas. Terdapat 104 pasien efusi eksudatif dan 15 pasien transudatif. Kriteria Light mempunyai sensitivitas 97%, spesifisitas 80%, akurasi 95%. Titik potong optimum didapatkan pada rasio LDH cairan pleura/serum 0,4 (sensitivitas 95%, spesifisitas 87%, akurasi 94%) dan LDH cairan pleura 178 IU/L (sensitivitas 92%, spesifisitas 87%, akurasi 92%). Kombinasi ketiga parameter tidak meningkatkan sensitivitas ataupun akurasi diagnostik. Kriteria Light mempunyai akurasi diagnostik tertinggi tetapi rasio LDH cairan pleura/serum dengan titik potong 0,40 dan LDH cairan pleura dengan titik potong 178 IU/L memiliki akurasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan titik potong yang digunakan pada kriteria Light.

Kriteria Light mempunyai akurasi diagnostik tertinggi tetapi rasio LDH cairan pleura/serum dengan titik potong 0,40 dan LDH cairan pleura dengan titik potong 178 IU/L memiliki akurasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan titik potong yang digunakan pada kriteria Light.Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menguji validitas parameter-parameter baru dengan titik potong yang lebih spesifik dalam membedakan efusi pleura transudatif dan eksudatif.Pengembangan metode diagnostik yang lebih akurat akan membantu dalam penegakan diagnosis dan penatalaksanaan pasien dengan efusi pleura.

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, perlu dilakukan penelitian prospektif yang lebih besar untuk memvalidasi penggunaan rasio LDH cairan pleura/serum dan kadar LDH cairan pleura sebagai penanda diagnostik efusi pleura, dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi hasil pemeriksaan. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada identifikasi biomarker tambahan yang dapat meningkatkan akurasi diagnosis, misalnya dengan mengkombinasikan parameter-parameter yang sudah ada dengan penanda inflamasi atau penanda spesifik penyakit yang mendasari efusi pleura. Ketiga, penelitian longitudinal dapat dilakukan untuk mengevaluasi dampak penggunaan rasio LDH dan kadar LDH terhadap penatalaksanaan pasien efusi pleura, termasuk pemilihan terapi dan pemantauan respons terhadap pengobatan.

Read online
File size43.4 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test