UNSIKAUNSIKA

BAROMETERBAROMETER

Penelitian ini bertujuan memahami kualitas udara di area atap gedung di Kota DKI Jakarta, yang dikenal dengan kepadatan penduduk tinggi dan perkembangan infrastruktur pesat. Konsentrasi karbon dioksida (CO2) di area atap menjadi fokus utama, sebagai indikator kualitas udara yang dipengaruhi oleh polusi udara, aktivitas industri, dan transportasi padat. Penggunaan teknologi Internet of Things (IoT) dan sensor CO2 diungkapkan sebagai solusi efektif untuk memantau konsentrasi CO2 secara real-time. Penelitian ini penting untuk langkah-langkah pengendalian polusi udara, memberikan pemahaman terhadap dampak taman atap dalam mengurangi emisi CO2, dan menjadi inspirasi bagi penelitian masa depan di bidang kualitas udara dan teknologi IoT. Melalui literatur terdahulu, tiga penelitian signifikan menggarisbawahi dampak industri dan teknologi pemantauan CO2. Penelitian ini dilakukan di dua lokasi di DKI Jakarta, yaitu area Atap Taman dan Atap Biasa. Pemantauan dilakukan pada empat bagian hari dengan selang waktu empat jam untuk membandingkan tingkat CO2. Alat yang digunakan melibatkan NodeMCU ESP8266, sensor DHT-22, dan sensor MQ-135. Hasilnya menunjukkan bahwa area atap dengan taman memiliki tingkat CO2 rata-rata yang lebih rendah (295 PPM) dibandingkan atap biasa (360 PPM), menunjukkan potensi desain atap berkebun dalam mengurangi konsentrasi CO2. Rekomendasi penelitian termasuk peningkatan frekuensi pengumpulan data dan pertimbangan faktor tambahan untuk pemahaman lebih komprehensif tentang kualitas udara perkotaan.

Penelitian ini mengintegrasikan teknologi IoT dan sensor CO2 untuk memahami kualitas udara di area atap gedung di Kota DKI Jakarta.Dari hasil analisis, area atap dengan taman menunjukkan tingkat rata-rata CO2 yang lebih rendah (295 PPM) dibandingkan atap biasa (360 PPM), menunjukkan potensi desain atap berkebun dalam mengurangi konsentrasi CO2.Meskipun demikian, penelitian memiliki keterbatasan dalam jenis atap.Rekomendasi penelitian mendatang termasuk meningkatkan frekuensi pengumpulan data dan mempertimbangkan faktor tambahan untuk pemahaman yang lebih komprehensif tentang kualitas udara perkotaan.

Berdasarkan penelitian ini, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, perlu dilakukan studi lebih lanjut untuk menginvestigasi pengaruh berbagai jenis tanaman pada atap terhadap penyerapan CO2, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti jenis tanaman, kepadatan, dan kondisi lingkungan. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada pengembangan model prediktif untuk memprediksi tingkat CO2 di area atap berdasarkan data historis dan faktor-faktor eksternal seperti cuaca dan aktivitas lalu lintas. Ketiga, penelitian dapat mengeksplorasi integrasi sistem IoT dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mengoptimalkan pengelolaan atap taman, misalnya dengan menyesuaikan sistem irigasi dan pemupukan berdasarkan data sensor kualitas udara.

Read online
File size621.25 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test