UNTARUNTAR

Jurnal ProvitaeJurnal Provitae

Dalam menjalani profesinya, terdapat banyak tantangan yang dihadapi oleh guru SLB setiap harinya. Guru SLB sering berhadapan dengan situasi yang kompleks dan menantang seperti situasi emosional dari siswa yang beragam dan intensitas emosi yang tinggi, sehingga secara tidak langsung guru SLB dituntut untuk memiliki kemampuan mengelola emosi yang baik agar dapat mencegah hal-hal yang dapat membuat guru stres. Hal ini disebut debagai regulasi emosi, yaitu proses individu mengenali emosinya, mengetahui kapan emosinya muncul, dan bagaimana cara untuk menunjukkannya. Guru yang mampu mengontrol emosi mereka dapat menciptakan lingkungan belajar yang baik dan menyenangkan, namun guru dengan kemampuan regulasi emosi yang buruk akan mengarah kepada hal-hal yang tidak diinginkan, salah satunya work burnout. Work burnout adalah respons individu terhadap stresor emosional dan interpersonal yang terus-menerus di tempat kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara regulasi emosi dengan work burnout pada guru SLB. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dan menggunakan gform untuk menyebarkan kuesioner kepada partisipan. Partisipan untuk penelitian ini adalah 233 guru-guru yang bekerja di Sekolah Luar Biasa di daerah Jakarta. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah Emotion Regulation Questionnare dan Maslach Burnout Inventory-Educators Survey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif dan signifikan antara work burnout dengan regulasi emosi pada guru Sekolah Luar Biasa di daerah Jakarta.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru-guru di sekolah luar biasa di Jakarta memiliki hubungan antara work burnout dan regulasi emosi.Jika guru-guru memiliki kemampuan untuk mengendalikan emosi, maka akan minim work burnout yang terjadi.Dapat dilihat bahwa sebagian besar guru-guru sekolah luar biasa yang menjadi partisipan pada penelitian ini tergolong memiliki kemampuan untuk mengontrol emosi dengan sangat baik, hal ini berarti guru-guru tersebut mampu mengelola emosi yang dimiliki hingga cara mengekspresikan emosi tersebut.Regulasi emosi sangat diperlukan bagi setiap individu, terlebih para guru-guru SLB yang setiap hari mengalami situasi emosional.Seperti guru-guru pada penelitian ini membutuhkan regulasi emosi yang baik agar dapat menjalani proses belajar mengajar yang kondusif dengan anak-anak berkebutuhan khusus dan mencegah terjadinya stres berkepanjangan karena situasi emosional yang dihadapi setiap harinya.

Studi tentang regulasi emosi dan burnout di Sekolah Luar Biasa (SLB) diharapkan dapat membantu memahami bagaimana dinamika ini mempengaruhi guru yang bekerja dengan siswa dengan kebutuhan khusus. Saran untuk peneliti selanjutnya adalah dapat melakukan penelitian jangka panjang untuk mengetahui bagaimana regulasi emosi guru SLB berubah seiring waktu dan bagaimana perubahan ini terkait dengan tingkat burnout. Selain itu, peneliti mengharapkan penelitian selanjutnya akan melakukan wawancara mendalam dengan guru SLB untuk mengetahui bagaimana mereka mengelola emosi saat bekerja dengan siswa berkebutuhan khusus.

  1. APA PsycNet. psycnet loading doi.org/10.1037/0021-9010.81.2.123APA PsycNet psycnet loading doi 10 1037 0021 9010 81 2 123
  2. Jurnal Psikologi Teori dan Terapan. regulasi burnout guru jurnal psikologi teori terapan authors sysditya... journal.unesa.ac.id/index.php/jptt/article/view/1796Jurnal Psikologi Teori dan Terapan regulasi burnout guru jurnal psikologi teori terapan authors sysditya journal unesa ac index php jptt article view 1796
  3. APA PsycNet. psycnet loading doi.org/10.1037/0022-3514.85.2.348APA PsycNet psycnet loading doi 10 1037 0022 3514 85 2 348
Read online
File size414.3 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test