UNISMUHUNISMUH

JURNAL KONFIKSJURNAL KONFIKS

Penelitian ini fokus pada penelusuran bahwa keberadaan bahasa dapat diukur dari keberlangsungan atau leksikonnya sebagai unsur terkecil bahasa. Ekolinguistik sebagai bagian kajian linguistik yang secara khusus mengkaji hubungan antara bahasa manusia dengan lingkungan ekologis, yaitu lingkungan fisik alam semesta, baik lingkungan biotik maupun abiotik, lingkungan sosial dan budaya atau kebudayaan suatu masyarakat bahasa. Penelitian ini berupaya mengukur vitalitas leksikon dengan mencatat leksikon ekologi flora dan fauna melalui klasifikasi leksikon. Klasifikasi leksikon ekologi terbagi menjadi dua temuan, yaitu tipe ekologi dan tipe leksikon. Tipe ekologi mengklasifikasikan leksikon ekologi flora yang menghasilkan seluruh data utama merupakan tipe ekologi Indonesia. Untuk data turunan berupa penggunaan flora dalam ekspresi tergolong dalam jenis leksikon ekologi notik Indonesia karena menggunakan flora dalam konteks kebahasaan sebagai fungsi metaforis. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan matriks semantik dalam metode penelitian ekolinguistik dalam mengoperasionalkan dan mendeskripsikan leksikon flora dan fauna Indonesia yang berkaitan dengan kehidupan sosial.

Penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan leksikon dapat diukur melalui keberlangsungan leksikon sebagai unsur bahasa terkecil.Ekolinguistik, sebagai studi linguistik khusus, menyoroti hubungan antara bahasa manusia dan lingkungan ekologis.Penelitian ini mengukur vitalitas leksikon dengan mencatat dan mengklasifikasikan leksikon ekologi flora dan fauna.Temuan utama menunjukkan bahwa leksikon flora sebagian besar merupakan tipe ekologi Indonesia, sementara penggunaan flora dalam ekspresi diklasifikasikan sebagai leksikon ekologi notik Indonesia karena fungsi metaforisnya.

Penelitian lanjutan dapat dilakukan dengan mengeksplorasi lebih dalam bagaimana perubahan lingkungan, seperti deforestasi atau urbanisasi, memengaruhi hilangnya leksikon ekologi lokal dan bagaimana hal ini berdampak pada pengetahuan tradisional masyarakat. Selain itu, studi komparatif dapat dilakukan dengan membandingkan leksikon ekologi di berbagai daerah dengan tingkat keragaman hayati yang berbeda untuk mengidentifikasi pola dan faktor-faktor yang memengaruhi vitalitas bahasa. Terakhir, penelitian dapat berfokus pada pengembangan program pelestarian bahasa yang melibatkan dokumentasi dan revitalisasi leksikon ekologi, serta integrasi pengetahuan tradisional ke dalam pendidikan dan kebijakan lingkungan. Upaya ini penting untuk menjaga keberagaman budaya dan pengetahuan lokal yang terkandung dalam bahasa daerah, serta untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan.

Read online
File size182.08 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test