PELITABANGSAPELITABANGSA

Prosiding Sains dan TeknologiProsiding Sains dan Teknologi

Kebakaran hutan di Kalimantan Selatan menunjukkan peningkatan tajam dalam frekuensi kejadian pada tahun 2023, bertepatan dengan kondisi kering yang terkait dengan fenomena El Niño. Meskipun jumlah kejadian kebakaran tinggi, tingkat keparahan kebakaran bervariasi di berbagai lokasi. Penelitian ini menganalisis faktor lingkungan yang mempengaruhi tingkat keparahan kebakaran hutan menggunakan Geographically Weighted Regression (GWR) untuk memodelkan variasi spasial. Keparahan kebakaran diukur menggunakan Differenced Normalized Burn Ratio yang diperoleh dari citra satelit. Hasil menunjukkan bahwa keparahan kebakaran menunjukkan korelasi spasial positif, menunjukkan hubungan yang bervariasi secara spasial antara faktor lingkungan dan keparahan kebakaran. Model GWR memberikan daya penjelas yang lebih baik dan mengurangi autokorelasi spasial pada residual. Curah hujan total dan kelembaban vegetasi menunjukkan pengaruh spasial yang paling konsisten terhadap tingkat keparahan kebakaran, sementara suhu dan ketinggian memiliki efek yang lebih lemah dan lebih lokal. Temuan ini menunjukkan bahwa pemodelan spasial berguna untuk memahami variasi tingkat keparahan kebakaran hutan dan untuk mendukung strategi pengelolaan kebakaran yang spesifik lokasi.

Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi tingkat keparahan kebakaran hutan di Kalimantan Selatan pada tahun 2023 dengan menggunakan pendekatan Geographically Weighted Regression.Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat keparahan kebakaran memiliki pola spasial yang tidak seragam, sehingga pendekatan regresi global kurang mampu menjelaskan variasi yang terjadi antar lokasi.Model GWR menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan model OLS, ditunjukkan oleh peningkatan nilai koefisien determinasi, penurunan nilai kesalahan prediksi, serta berkurangnya autokorelasi spasial pada residual.Analisis koefisien GWR menunjukkan variabel total presipitasi dan kelembapan vegetasi merupakan faktor yang paling konsisten memengaruhi keparahan kebakaran, dengan pengaruh yang bervariasi secara spasial.Curah hujan dan kandungan air vegetasi yang lebih tinggi sebelum kejadian kebakaran cenderung berkaitan dengan tingkat keparahan yang lebih rendah.Sementara itu, pengaruh suhu dan elevasi relatif lemah dan berbeda antar wilayah.Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara faktor lingkungan dan keparahan kebakaran bersifat non stasioner dan bergantung pada kondisi lokal.Oleh karena itu, strategi mitigasi dan pengelolaan kebakaran hutan perlu mempertimbangkan karakteristik spasial wilayah, khususnya terkait kondisi curah hujan dan kelembapan vegetasi, agar upaya pengurangan dampak kebakaran dapat dilakukan dengan tepat sasaran.

Untuk penelitian lanjutan, dapat dilakukan studi lebih mendalam tentang pengaruh spesifik tipe hutan terhadap keparahan kebakaran. Menganalisis hubungan antara karakteristik tipe hutan, seperti komposisi spesies dan struktur vegetasi, dengan tingkat keparahan kebakaran dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang faktor-faktor yang memengaruhi keparahan kebakaran. Selain itu, penelitian dapat dilakukan untuk mengeksplorasi strategi pengelolaan kebakaran yang spesifik lokasi, dengan mempertimbangkan faktor-faktor lingkungan dan karakteristik tipe hutan. Studi ini dapat membantu mengembangkan strategi mitigasi yang efektif dan terarah untuk mengurangi dampak kebakaran hutan di Kalimantan Selatan.

Read online
File size541.01 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test