UNESAUNESA

Kajian Moral dan KewarganegaraanKajian Moral dan Kewarganegaraan

Tradisi memiliki peran yang sangat signifikan sebagai pengikat sosial dan media pendidikan karakter. Nilai-nilai seperti gotong royong, religiusitas, toleransi, disiplin, dan tanggung jawab sering kali tercermin dalam berbagai tradisi lokal, seperti Tumpeng Sewu di Banyuwangi. Dalam pelaksanaannya bagi generasi muda banyak sekali yang masih menganggap bahwa tradisi tersebuh hanya sebuah acara tahunan dan masih kurang memaknai nilai karakter yang ada. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengidentifikasi Festival Tumpeng Sewu sebagai media membangun identitas suku osing dan hambatan-hambatan dalam pembangunan identitas tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian analisis deskriptif. Data dari penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini merupakan Ketua Adat Desa Kemiren dan Masyarakat Desa Kemiren. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam tradisi Tumpeng Sewu terdapat dua prosesi yang menjadi bagian daripada tradisi tersebut. Yang pertama, rangkaian upacara adat sebelum tradisi tumpeng sewu, diantaranya Mepe Kasur, Arak-arakan, Barong Kemiren dan Parade Obor atau Oncor kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan Tradisi Tumpeng Sewu sendiri. Beberapa makna Tradisi Tumpeng Sewu yaitu sebagai pengungkapan rasa syukur desa terhadap Danyang Desa atau leluhur. Kemudian, sebagai simbol tali persaudaraan serta mempererat tali silaturahmi antara masyarakat Kemiren hingga warga pada umumnya serta menjadi simbol bahwa tradisi dari para nenek moyang tidak pernah tergerus zaman, meskipun modernisasi semakin menguasai pada saat ini. Tradisi Tumpeng Sewu dapat bertahan hingga kini karena anak-anak muda yang berada di Desa Kemiren memiliki rasa kepedulian serta rasa antusias yang sangat tinggi. Tradisi ini akan tetap ada karena tradisi lahir dari masyarakat Kemiren dan menyatu dengan masyarakat Kemiren juga.

Tradisi adalah tembok penting dalam pembangunan identitas, baik secara individu maupun kolektif.Melalui tradisi, nilai-nilai karakter seperti integritas, kedisiplinan, tanggung jawab, dan rasa hormat dapat ditanamkan secara mendalam.Oleh karena itu, menjaga dan mengembangkan tradisi adalah langkah strategis untuk membangun masyarakat yang berkarakter kuat dan memiliki identitas yang jelas.Dengan memahami dan melestarikan tradisi, kita tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga membangun generasi yang tangguh dalam menghadapi perubahan zaman.Berdasarkan penjelasan serta analisis yang sudah diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa Tumpeng Sewu bukan hanya tradisi saja melainkan di dalamnya juga terkandung makna filosofis yang dapat diambil manfaat bersama seperti tumpeng pecel pitik dan aja mati obore.Tradisi Tumpeng Sewu memiliki arti Tumpeng Seribu.Tradisi ini merupakan selametan desa sebagai bentuk wujud syukur desa Kemiren terhadap Danyang Desa atau Leluhur karena di beri kesehatan, ketentraman dan kesejahteraan ini menggunakan Tumpeng dengan lauk khas yaitu pecel pitik.Tradisi Tumpeng Sewu dapat bertahan hingga kini karena anak-anak muda yang berada di Desa Kemiren memiliki rasa kepedulian serta rasa antusias yang sangat tinggi.Meskipun terdapat panitia yang menyelenggarakan Tumpeng Sewu, dapat dipastikan tradisi Tumpeng Sewu tetap akan ada karena tradisi lahir dari masyarakat Kemiren dan menyatu dengan masyarakat Kemiren.

Untuk menjaga kelestarian tradisi dan memperkuat identitas suku Osing, perlu ada upaya integrasi antara pemerintah, masyarakat lokal, dan generasi muda. Pelestarian tradisi harus dilakukan secara berkelanjutan dan sinergis. Selain itu, penting untuk mengembangkan tradisi menjadi lebih menarik bagi generasi muda, misalnya dengan mengemasnya sebagai acara komersial untuk meningkatkan wisata. Dalam penelitian ini, tradisi Tumpeng Sewu telah berhasil dipertahankan dan bahkan dikembangkan menjadi bagian dari agenda rutin tahunan kabupaten Banyuwangi. Namun, masih ada beberapa hambatan yang perlu diatasi, seperti kurangnya minat generasi muda dalam mempelajari adat istiadat dan mengikuti acara tradisi. Untuk mengatasi hal ini, perlu ada upaya untuk memberikan pengakuan dan wadah bagi generasi muda dalam mengembangkan keahlian mereka. Selain itu, penting juga untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kebersihan setelah acara dan mencari cara organik untuk pembiayaan atau pengadaan kegiatan adat. Dengan demikian, tradisi Tumpeng Sewu dapat terus dipertahankan dan dikembangkan sebagai sarana untuk memperkuat karakter individu dan kolektif dalam menghadapi tantangan globalisasi.

Read online
File size288.59 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test