POLTEKKES JOGJAPOLTEKKES JOGJA

Caring : Jurnal KeperawatanCaring : Jurnal Keperawatan

Hemodialisis adalah salah satu terapi yang sering digunakan pada pasien gagal ginjal kronis. Tujuan hemodialisis adalah untuk membantu memperpanjang umur pasien dengan cara mengurangi gejala yang disebabkan oleh gangguan akibat penurunan fungsi ginjal. Meskipun hemodialisa dapat memperpanjang umur pasien, proses terapi ini menuntut pasien untuk melakukan penyesuaian besar dalam kehidupannya. Ginjal sendiri merupakan organ vital yang berperan dalam menjaga komposisi darah, mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh, serta memproduksi hormon yang berfungsi mengendalikan tekanan darah, produksi sel darah merah, dan kekuatan tulang. Gangguan fungsi ginjal dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan ginjal yang serius, dan pasien dengan Gagal Ginjal Kronis (GGK) memerlukan terapi hemodialisa secara rutin. Peningkatan prevalensi GGK sejalan dengan peningkatan usia, berdasarkan Riskesdas 2013, prevalensi GGK meningkat dari 0,3% pada usia 35–44 tahun menjadi 0,6% pada usia di atas 75 tahun. Salah satu dampak psikologis yang sering dialami pasien GGK yang menjalani hemodialisa adalah depresi. Terapi hemodialisa dapat mempengaruhi pengeluaran finansial, meningkatkan risiko hospitalisasi, serta menimbulkan rasa putus asa, bahkan keinginan untuk bunuh diri. Wu (2019) menunjukkan bahwa pasien GGK dengan depresi memiliki risiko komorbiditas yang lebih tinggi dan tingkat mortalitas yang meningkat. Angka kejadian depresi tertinggi berada di wilayah Asia Tenggara yaitu sebesar 86,94% (27%) dari total 322 juta individu. Indonesia menempati urutan kelima dengan prevalensi depresi sebesar 3,7%. Depresi ditandai oleh perasaan sedih ekstrem, rasa bersalah, kehilangan minat dalam aktivitas sehari-hari, dan menarik diri dari lingkungan sosial. Dukungan keluarga berperan penting dalam proses adaptasi pasien terhadap hemodialisa. Studi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa pasien yang tidak mendapatkan dukungan keluarga memiliki risiko kondisi kesehatan yang memburuk. Pasien yang didampingi keluarga selama terapi merasa lebih percaya diri. Keluarga memberikan dukungan moral, tenaga, dan biaya untuk membantu pasien. Dukungan keluarga juga terbukti meningkatkan kemampuan self care management pasien hemodialisa sehingga mereka dapat mencapai derajat kesehatan yang lebih baik. Namun, masih sedikit penelitian di Indonesia yang secara spesifik mengkaji hubungan antara dukungan keluarga dan tingkat depresi pada pasien hemodialisa, khususnya di wilayah Kalimantan Timur. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga terhadap depresi pada pasien hemodialisa di Rumah Sakit Kalimantan Timur.

Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien hemodialisis mengalami depresi dengan tingkat berbeda, dan terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan tingkat depresi pada pasien hemodialisis (p = 0,028).Faktor lain yang turut memengaruhi adalah usia, jenis kelamin, pekerjaan, penghasilan, status pernikahan, dan pendidikan.Diharapkan pihak rumah sakit dapat meningkatkan pendekatan psikososial dalam pelayanan pasien hemodialisis, termasuk penyediaan konseling atau program edukasi keluarga.Keluarga diharapkan dapat memberi dukungan emosional dan praktis yang konsisten kepada pasien.Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk mengeksplorasi intervensi psikologis berbasis keluarga serta memperluas variabel lain seperti durasi terapi hemodialisis dan riwayat komorbiditas.

Berdasarkan hasil penelitian ini, kami menyarankan beberapa arah penelitian lanjutan yang dapat dilakukan untuk lebih mendalami hubungan antara dukungan keluarga dan depresi pada pasien hemodialisis. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi intervensi psikologis berbasis keluarga yang dapat membantu mengurangi tingkat depresi pada pasien hemodialisis. Kedua, perlu diperluas variabel penelitian dengan mempertimbangkan durasi terapi hemodialisis dan riwayat komorbiditas pasien, karena kedua faktor ini dapat mempengaruhi tingkat dukungan keluarga dan depresi. Ketiga, penelitian selanjutnya dapat fokus pada dampak dukungan keluarga terhadap kualitas hidup pasien hemodialisis, termasuk aspek fisik, psikologis, dan sosial. Dengan demikian, penelitian lanjutan ini dapat memberikan kontribusi yang lebih komprehensif dalam memahami dan meningkatkan kualitas hidup pasien hemodialisis, serta memperkuat peran keluarga dalam proses perawatan dan pemulihan mereka.

  1. Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap Depresi Pada Pasien Dengan Hemodialisis di Rumah Sakit Kalimantan... e-journal.poltekkesjogja.ac.id/index.php/caring/article/view/2500Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap Depresi Pada Pasien Dengan Hemodialisis di Rumah Sakit Kalimantan e journal poltekkesjogja ac index php caring article view 2500
  2. STUDY CROSS SECTIONAL : DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN HEMODIALISA PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS... ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jkp/article/view/28418STUDY CROSS SECTIONAL DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN HEMODIALISA PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS ejournal unsrat ac index php jkp article view 28418
  3. Pengalaman Pertama Menjalani Hemodialisa Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik: The First Experience Undergoing... doi.org/10.33221/jiiki.v10i03.619Pengalaman Pertama Menjalani Hemodialisa Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik The First Experience Undergoing doi 10 33221 jiiki v10i03 619
Read online
File size357.55 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test