UNWUNW

Indonesian Journal of Midwifery (IJM)Indonesian Journal of Midwifery (IJM)

Menstruasi yang teratur merupakan indikator penting dalam kesehatan reproduksi karena menggambarkan keseimbangan sistem hormonal. Stres menjadi salah satu determinan yang dapat mempengaruhi siklus menstruasi. Mahasiswa kebidanan menjadi kelompok rentan mengalami stres akibat tuntutan akademik dan praktik klinik. Studi ini dilakukan dengan metode kuantitatif menggunakan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian terdiri dari mahasiswi program studi D3 dan S1 Kebidanan angkatan 2023-2025. Sampel penelitian berjumlah 158 responden yang diambil menggunakan teknik total sampling. Pengukuran tingkat stres dilakukan menggunakan kuesioner Perceived Stress Scale (PSS-10), sedangkan siklus menstruasi dikategorikan menjadi normal dan tidak normal. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square. Mayoritas responden berada dalam kondisi tingkat stres sedang (80,4%) dan memiliki siklus menstruasi normal (75,9%). Hasil uji chi-square diperoleh nilai p-value yaitu 0,489 (p > 0,05), yang artinya tidak terdapat hubungan antara tingkat stres dengan siklus menstruasi pada mahasiswa kebidanan. Tingkat stres yang dialami responden sebagian besar masih berada dalam batas adaptif sehingga belum berdampak signifikan terhadap siklus menstruasi. Selain itu, terdapat faktor lain seperti indeks massa tubuh (IMT), kelelahan, pola hidup dan kemampuan coping individu yang menjadi faktor perancu dalam mempengaruhi keteraturan menstruasi. Tingkat stres tidak berhubungan secara signifikan dengan keteraturan menstruasi pada mahasiswa kebidanan dan bukan merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi keteraturan menstruasi.

Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat stres dan siklus menstruasi pada mahasiswa kebidanan di Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Ganesha.Temuan ini mengindikasikan bahwa tingkat stres bukan merupakan determinan utama siklus menstruasi yang teratur, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor lain baik biologis maupun gaya hidup.Penelitian selanjutnya disarankan untuk menganalisis determinan lain yang dapat mempengaruhi siklus menstruasi, dengan pendekatan multivariat agar hubungan antara stres dan siklus menstruasi dapat dipahami secara lebih komprehensif.

Penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk menginvestigasi lebih dalam mengenai pengaruh faktor-faktor lain, seperti indeks massa tubuh, pola makan, kualitas tidur, dan dukungan sosial, terhadap siklus menstruasi pada mahasiswi kebidanan. Selain itu, penting untuk mengeksplorasi efektivitas intervensi berbasis mindfulness atau teknik relaksasi dalam mengurangi tingkat stres dan meningkatkan regulasi siklus menstruasi pada populasi ini. Penelitian kualitatif juga dapat dilakukan untuk memahami pengalaman subjektif mahasiswi kebidanan terkait stres dan dampaknya terhadap kesehatan reproduksi mereka, sehingga dapat dirancang program dukungan yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka. Studi longitudinal yang melibatkan pemantauan siklus menstruasi dan tingkat stres secara berkala akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai hubungan dinamis antara kedua variabel tersebut, serta mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang mungkin berperan dalam gangguan siklus menstruasi.

  1. Hubungan Tingkat Stres dengan Keteraturan Siklus Menstruasi pada Mahasiswi S1 Kebidanan Universitas Muhammadiyah... doi.org/10.55123/insologi.v4i6.6691Hubungan Tingkat Stres dengan Keteraturan Siklus Menstruasi pada Mahasiswi S1 Kebidanan Universitas Muhammadiyah doi 10 55123 insologi v4i6 6691
Read online
File size187.33 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test