4141

Jurnal Teknik Sipil dan Teknologi KonstruksiJurnal Teknik Sipil dan Teknologi Konstruksi

Muara Sungai Serayu terletak di Kabupaten Cilacap, tepatnya di Kecamatan Adipala dan Kesugihan. Saat aliran air memasuki muara, terjadi perubahan kecepatan aliran yang melambat sehingga menyebabkan pengendapan sedimen di muara sungai. Mulut muara Sungai Serayu mengalami perubahan morfologi akibat adanya lidah pasir yang menutupi mulut muara, sehingga terjadi pembelokan aliran ke wilayah Kesugihan. Berdasarkan pemodelan SED2D, terjadi perubahan elevasi dasar di muara sungai pada kondisi eksisting sebesar 11,79% - 30,20%. Pada kondisi perencanaan groundsill terjadi peningkatan 0,35%, sehingga penurunan elevasi dasar berkisar 11,56% - 30,55%. Untuk kondisi perencanaan jetty, terjadi penurunan 0,47% dari kondisi eksisting, dengan perubahan elevasi selama satu tahun sebesar 0,06% - 29,73%. Berdasarkan pola sedimentasi dan pertimbangan perubahan elevasi dasar, bangunan pengaman yang paling sesuai adalah jetty tipe panjang. Sebelum pemasangan jetty, diperlukan pengerukan di sekitar muara Sungai Serayu hingga kedalaman -3,00 m.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sedimen di muara Sungai Serayu memiliki berat jenis rata-rata 2,312 dan diameter butiran (D60) rata-rata 0,492 mm, dengan jenis tanah dominan lempung lanau dan lempung berpasir.Pemodelan RMA2 dan SED2D menunjukkan bahwa kondisi perencanaan jetty menghasilkan penurunan kecepatan arus dan perubahan elevasi dasar yang lebih rendah dibandingkan kondisi eksisting dan groundsill.Oleh karena itu, bangunan pengaman yang direkomendasikan adalah jetty tipe panjang, dengan syarat dilakukan pengerukan awal hingga kedalaman -3,00 m dan perawatan berkala untuk mencegah pendangkalan.

Pertama, perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan data debit aktual dari pengukuran langsung di lapangan untuk meningkatkan akurasi model arus dan sedimentasi di muara Sungai Serayu. Kedua, pengambilan sampel sedimen dapat diperluas dengan metode pengambilan melintang dan memanjang sepanjang muara guna memperoleh gambaran distribusi sedimen yang lebih komprehensif. Ketiga, penelitian selanjutnya dapat memperluas cakupan analisis dari hanya muara menjadi sepanjang pantai di sekitar muara untuk mengevaluasi dampak sedimentasi terhadap morfologi pantai secara lebih menyeluruh. Gabungan ketiga pendekatan ini akan menghasilkan model pengelolaan muara yang lebih akurat dan berkelanjutan. Penambahan data lapangan dan perluasan area studi dapat mengurangi asumsi linier dalam simulasi dan meningkatkan validitas rekomendasi teknis. Selain itu, integrasi parameter hidrodinamika dan sedimentasi jangka panjang dapat membantu merancang strategi mitigasi yang lebih efektif. Dengan pendekatan ini, hasil penelitian dapat menjadi dasar perencanaan infrastruktur pesisir yang lebih andal. Studi lanjutan juga perlu mempertimbangkan variasi musiman dalam arus dan pasang surut. Model yang lebih dinamis akan mampu memprediksi perubahan morfologi secara lebih realistis. Hal ini penting untuk menjaga fungsi muara sebagai jalur drainase alami dan mencegah bencana banjir. Rekomendasi ini mendukung pengelolaan sungai secara terpadu dan berbasis data ilmiah.

Read online
File size544.2 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test