UMSUMS

Sinektika: Jurnal ArsitekturSinektika: Jurnal Arsitektur

Globalisasi berisiko menyeragamkan identitas arsitektur kota, menjadi ancaman bagi kota dengan warisan eklektik seperti Pangkalpinang, yang memiliki akulturasi budaya Melayu, Tionghoa, dan Kolonial. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi elemen fisik pembentuk citra kota melalui metode pemetaan kognitif yang divalidasi secara kuantitatif. Menggunakan desain metode campuran sekuensial eksploratoris, penelitian diawali dengan tahap kualitatif melalui pemetaan partisipatif untuk mengidentifikasi elemen kota berdasarkan teori Kevin Lynch (path, edge, district, node, landmark). Tahap ini dilanjutkan dengan survei kuantitatif interaktif berbasis Geogussr yang melibatkan 50 responden untuk mengukur akurasi persepsi spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen landmark dan node memiliki tingkat pengenalan spasial tertinggi, berfungsi sebagai jangkar kognitif utama bagi masyarakat. Sebaliknya, elemen path dan edge menunjukkan persepsi yang lebih terfragmentasi dengan tingkat akurasi yang lebih rendah. Penelitian ini menyumbangkan sebuah metodologi baru yang lebih objektif dalam membaca citra kota dan menghasilkan data empiris yang dapat diaplikasikan dalam penyusunan panduan rancang kota serta strategi pelestarian warisan arsitektur yang berbasis persepsi kolektif.

Penelitian ini berhasil memetakan elemen fisik yang membentuk citra kota Pangkalpinang melalui persepsi kognitif masyarakat, menunjukkan bahwa landmark dan node merupakan jangkar utama dalam orientasi spasial kolektif.Sebaliknya, pengenalan terhadap elemen path dan edge jauh lebih lemah, mengindikasikan kerapuhan dalam keterbacaan struktur spasial kota.Kontribusi utama penelitian ini adalah pengembangan pendekatan metodologis yang menggabungkan pemetaan partisipatif dan analisis kuantitatif dari GeoGuessr untuk mengukur kekuatan elemen arsitektur dalam memori kolektif.

Pertama, perlu diteliti bagaimana pengaruh perubahan lingkungan fisik dari waktu ke waktu terhadap evolusi pemetaan kognitif masyarakat di kota-kota dengan warisan eklektik, untuk memahami dinamika identitas spasial dalam konteks pembangunan berkelanjutan. Kedua, sebaiknya dikembangkan studi komparatif tentang efektivitas aplikasi digital seperti GeoGuessr dalam menangkap persepsi spasial di daerah perkotaan dengan tingkat keragaman budaya yang berbeda, sehingga dapat dievaluasi apakah metode ini dapat diadaptasi secara luas di seluruh Indonesia. Ketiga, perlu dilakukan penelitian longitudinal yang mengamati bagaimana generasi muda membangun koneksi kognitif dan emosional terhadap elemen warisan arsitektur melalui interaksi digital, untuk menilai potensi teknologi dalam memperkuat kesadaran budaya dan keberlanjutan identitas kota di masa depan. Ketiga saran ini saling melengkapi dengan pendekatan partisipatif dan digital dalam memahami citra kota, sekaligus mengembangkan kerangka yang lebih inklusif dan futuristik bagi kajian identitas arsitektur di tengah arus globalisasi.

  1. Eclecticism Style in the Architecture of Khedivian Cairo | Enab | Journal of Islamic Architecture. eclecticism... doi.org/10.18860/jia.v5i2.4747Eclecticism Style in the Architecture of Khedivian Cairo Enab Journal of Islamic Architecture eclecticism doi 10 18860 jia v5i2 4747
  2. ARCHITECTONIC REGIONALISME DALAM ARSITEKTUR OSING | ALUR : Jurnal Arsitektur. regionalisme arsitektur... doi.org/10.54367/alur.v6i2.2605ARCHITECTONIC REGIONALISME DALAM ARSITEKTUR OSING ALUR Jurnal Arsitektur regionalisme arsitektur doi 10 54367 alur v6i2 2605
  3. The Cities' Identities between Critical Regionalism and Globalization | ARCHive-SR. cities identities... doi.org/10.21625/archive.v1i1.125The Cities Identities between Critical Regionalism and Globalization ARCHive SR cities identities doi 10 21625 archive v1i1 125
  4. APA PsycNet. psycnet loading doi.org/10.1037/h0061626APA PsycNet psycnet loading doi 10 1037 h0061626
Read online
File size820.74 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test