UMSUMS

FISIO MU: Physiotherapy EvidencesFISIO MU: Physiotherapy Evidences

Kelelahan merupakan mekanisme protektif yang diaktifkan tubuh untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, dan pemulihan dapat terjadi setelah istirahat yang memadai. Kelelahan okupasional sering ditandai dengan penurunan energi dalam melakukan tugas atau aktivitas sehari-hari, yang dapat menyebabkan peningkatan kesalahan dan, dalam kasus yang lebih serius, kecelakaan. Efek kelelahan dapat mengurangi kapasitas kerja dan daya tahan, seperti yang terlihat pada sensasi kelelahan, reaksi yang melambat, kesulitan dalam pengambilan keputusan, dan penurunan motivasi. Ketika tingkat kelelahan tinggi, hal ini dapat menghambat produktivitas pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kelelahan fisik pada pembuat bata di Desa Pangkah. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kuantitatif untuk memberikan gambaran tentang kelelahan kerja fisik yang dialami oleh pekerja pembuatan bata di Desa Pangkah. Penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling, jumlah sampel adalah 59 orang yang merupakan pekerja pembuatan bata di Desa Pangkah. Kelelahan kerja fisik pada pekerja pembuatan bata diukur menggunakan kuesioner Subjective Self Rating Test (SSRT). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, hasil pengukuran menggunakan kuesioner Subjective Self Rating Test (SSRT) menunjukkan bahwa pekerja mengalami kelelahan kerja dalam kategori rendah, yaitu 64,4%, kelelahan sedang sebanyak 33,9%, dan kelelahan tinggi sebesar 1,7%.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, semua pembuat bata di Desa Pangkah mengalami kelelahan kerja yang disebabkan oleh beberapa faktor, baik internal maupun eksternal, yang mengganggu aktivitas kerja mereka.Sehubungan dengan hal tersebut, diharapkan para pekerja dapat memanfaatkan waktu istirahat mereka dengan baik dan memperhatikan gizi serta kesehatan mereka agar tidak mengalami tingkat kelelahan yang lebih tinggi.Dengan demikian, diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan mengurangi risiko kecelakaan kerja.

Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, penelitian selanjutnya dapat menginvestigasi faktor-faktor spesifik yang paling berkontribusi terhadap kelelahan fisik pada pembuat bata, seperti postur kerja, beban kerja, dan kondisi lingkungan kerja. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan metode pengukuran yang lebih rinci, seperti analisis ergonomi dan pengukuran fisiologis. Kedua, penelitian dapat mengeksplorasi efektivitas intervensi ergonomi dan program kesehatan untuk mengurangi kelelahan fisik dan meningkatkan kesejahteraan pekerja. Intervensi ini dapat mencakup pelatihan postur kerja yang benar, penyediaan peralatan kerja yang lebih ergonomis, dan promosi gaya hidup sehat. Ketiga, penelitian dapat dilakukan untuk membandingkan tingkat kelelahan fisik pada pembuat bata di berbagai wilayah atau dengan metode produksi yang berbeda, untuk mengidentifikasi praktik terbaik dan faktor-faktor kontekstual yang mempengaruhi kelelahan kerja. Dengan demikian, dapat diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang kelelahan fisik pada pembuat bata dan dikembangkan strategi yang efektif untuk mencegah dan mengelola masalah ini.

  1. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kelelahan Kerja pada Pekerja Pembuat Bolu Talas Kujang di Home... doi.org/10.32832/pro.v6i4.273Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Kelelahan Kerja pada Pekerja Pembuat Bolu Talas Kujang di Home doi 10 32832 pro v6i4 273
Read online
File size229.36 KB
Pages3
DMCAReport

Related /

ads-block-test