UMSUMS

Journal of Community Services and Engagement: Voice of Community (VOC)Journal of Community Services and Engagement: Voice of Community (VOC)

Perundungan di sekolah merupakan fenomena sosial yang terjadi di seluruh Indonesia, termasuk di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Pendidikan Berkualitas merupakan bagian dari agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa yang wajib dilaksanakan oleh negara anggota, termasuk Indonesia. Permasalahan utama yang melandasi kegiatan ini adalah maraknya kasus perundungan akibat kurangnya pemahaman dan pengetahuan mengenai SDGs. Sebagai solusi, tim pengabdian masyarakat mengadakan kuliah umum dan lokakarya dengan tema Sekolah Aman dan Inklusif: Membangun Kesadaran Anti-Perundungan. Metode pelaksanaan meliputi pendidikan interaktif melalui penyampaian materi, diskusi kelompok siswa, refleksi, serta penyusunan komitmen tertulis oleh siswa. Hasil pelaksanaan menunjukkan antusiasme tinggi dan partisipasi aktif dari 100 siswa yang terlibat. Mereka menunjukkan kemampuan berpikir reflektif dan empatik, serta mampu merumuskan komitmen kolektif untuk mewujudkan sekolah bebas perundungan, menunjukkan rasa tanggung jawab bersama dan tekad yang kuat.

Kegiatan pengabdian masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap dampak perundungan di MAN 2 Cianjur berhasil dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif, reflektif, dan berbasis empati.Melalui sesi refleksi kelompok kecil, diskusi antarorganisasi, dan penyusunan komitmen bersama, siswa tidak hanya memperoleh wawasan baru tentang perundungan, tetapi juga mengembangkan kesadaran kritis bahwa perubahan lingkungan sekolah harus dimulai dari inisiatif mereka sendiri.Kegiatan ini memberikan kontribusi nyata dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada bidang pendidikan berkualitas dan kesehatan mental.

Pertama, perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengevaluasi efektivitas model pelatihan partisipatif berbasis literasi SDGs dalam jangka panjang, terutama dalam mengubah perilaku dan budaya sekolah terhadap perundungan. Kedua, perlu dikaji bagaimana peran forum anti-perundungan berbasis siswa dapat dikembangkan secara berkelanjutan, termasuk struktur, fungsi, dan mekanisme pelaporannya dalam konteks sekolah menengah keagamaan. Ketiga, penting untuk meneliti integrasi materi anti-perundungan dan SDGs ke dalam kurikulum lokal atau muatan kegiatan ekstrakurikuler secara sistematis, agar kesadaran yang dibangun tidak hanya bersifat sementara namun menumbuhkan perubahan budaya positif yang berkelanjutan. Penelitian-penelitian ini dapat dilakukan melalui pendekatan kualitatif dan kuantitatif secara longitudinal untuk melihat perubahan sikap, perilaku, dan iklim sekolah dari waktu ke waktu. Selain itu, studi bisa membandingkan efektivitas model ini di sekolah dengan latar belakang berbeda, seperti sekolah umum dan keagamaan, atau wilayah perkotaan dan pedesaan. Penelitian juga dapat mengeksplorasi peran guru sebagai fasilitator dalam menjaga keberlanjutan komitmen anti-perundungan. Dengan demikian, hasil kegiatan pengabdian ini dapat dikembangkan menjadi program nasional yang adaptif dan berkelanjutan.

  1. Peran UNICEF Indonesia Menangani Perundungan di Sekolah Melalui Program Roots | Sospol. peran unicef... doi.org/10.22219/jurnalsospol.v8i2.22258Peran UNICEF Indonesia Menangani Perundungan di Sekolah Melalui Program Roots Sospol peran unicef doi 10 22219 jurnalsospol v8i2 22258
Read online
File size991.99 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test