UNPARUNPAR

Sustainability Accounting JournalSustainability Accounting Journal

Transisi menuju ekonomi hijau merupakan keharusan global dan nasional, dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memainkan peran penting namun penuh tantangan. Di wilayah yang rentan secara ekologis dan terpencil seperti Kepulauan Aru, di mana UMKM menjadi tulang punggung ekonomi lokal, mendukung transisi ini sangat penting untuk ketahanan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan spesifik UMKM di Kepulauan Aru terhadap insentif pajak yang dapat memfasilitasi adopsi praktik ekonomi hijau. Menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan desain studi kasus, penelitian ini mengumpulkan data melalui wawancara mendalam dan diskusi kelompok terfokus bersama pemilik UMKM serta pemangku kebijakan lokal. Analisis menggunakan kerangka teori terpadu yang menggabungkan Teori Ekonomi Hijau, Teori Kegagalan Pasar, Teori Stakeholder, dan Teori Perilaku Terencana. Temuan menunjukkan adanya kesenjangan antara nilai dan tindakan di kalangan UMKM, ditandai dengan sikap positif terhadap konservasi lingkungan namun terbatasnya kemampuan perilaku untuk menerapkan praktik hijau. Hambatan utama meliputi keterbatasan keuangan untuk investasi awal teknologi hijau serta defisit pengetahuan dan kapasitas administratif mengenai praktik hijau dan prosedur perpajakan. Perspektif pemangku kepentingan juga menyoroti perlunya peningkatan koordinasi antarlembaga. Penelitian menyimpulkan bahwa kebutuhan UMKM di Aru melampaui subsidi finansial semata. Diperlukan paket kebijakan holistik dan sensitif terhadap konteks, yang mencakup model insentif pajak berjenjang dan disederhanakan—seperti depresiasi dipercepat atau bantuan langsung—yang dikombinasikan dengan ekosistem pendukung kuat meliputi kampanye kesadaran lokal, bantuan teknis, dan tata kelola yang disederhanakan, agar dapat menjembatani kesenjangan niat dan perilaku serta memberdayakan UMKM sebagai agen pembangunan berkelanjutan di Kepulauan Aru.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa transisi menuju ekonomi hijau di Kepulauan Aru terhambat oleh kesenjangan antara niat dan tindakan, bukan karena kurangnya kesadaran, melainkan karena hambatan finansial dan kapasitas administratif.Insentif pajak yang efektif harus dirancang secara holistik, sederhana, dan berjenjang, seperti skema depresiasi dipercepat atau bantuan langsung, agar dapat diakses oleh UMKM dengan kapasitas terbatas.Kebijakan tersebut harus diperkuat oleh ekosistem pendukung yang mencakup kampanye informasi lokal, bantuan teknis, dan koordinasi antarinstansi untuk memastikan implementasi yang berhasil.

Pertama, perlu dilakukan penelitian untuk menguji efektivitas skema insentif pajak berbasis aplikasi sederhana melalui aplikasi mobile yang terintegrasi dengan layanan UMKM lokal, agar mempermudah akses dan pengajuan oleh pelaku usaha dengan kapasitas administratif rendah. Kedua, penting untuk mengevaluasi pengaruh pelatihan peer-to-peer antar-UMKM dalam meningkatkan adopsi praktik hijau, dengan fokus pada bagaimana pengetahuan teknis dan motivasi sosial dapat ditularkan secara alami melalui jaringan komunitas lokal. Ketiga, perlu dikaji model koordinasi lintas instansi di tingkat kabupaten yang melibatkan kantor pajak, dinas lingkungan hidup, dan dinas koperasi dalam satu wadah terpadu, untuk menilai bagaimana struktur tata kelola seperti ini dapat mempercepat proses sertifikasi dan penyaluran insentif secara efektif di daerah terpencil. Penelitian-penelitian ini akan membantu merancang kebijakan yang tidak hanya ekonomis tetapi juga praktis dan berkelanjutan dalam konteks geografis dan sosial yang unik seperti Kepulauan Aru. Dengan pendekatan yang terpadu antara teknologi, sosial, dan kelembagaan, diharapkan insentif pajak benar-benar dapat menjadi katalis yang mendorong transisi ekonomi hijau. Fokus pada kemudahan akses dan keterlibatan aktor lokal akan meningkatkan rasa kepemilikan dan keberlanjutan dari kebijakan yang diterapkan. Selain itu, pemahaman mendalam tentang dinamika komunitas lokal dapat mengungkap mekanisme non-finansial yang juga berperan dalam mendorong perilaku berkelanjutan. Oleh karena itu, pendekatan holistik yang menggabungkan aspek teknis, sosial, dan kelembagaan menjadi kunci utama dalam mengatasi kesenjangan antara kebijakan dan implementasi di lapangan. Hasil dari penelitian lanjutan ini dapat menjadi acuan bagi daerah terpencil lainnya di Indonesia dengan kondisi serupa.

  1. Correlates of Narrow Bracketing - Koch - 2019 - The Scandinavian Journal of Economics - Wiley Online... doi.org/10.1111/sjoe.12311Correlates of Narrow Bracketing Koch 2019 The Scandinavian Journal of Economics Wiley Online doi 10 1111 sjoe 12311
Read online
File size186.65 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test