UMCUMC

SOSFILKOM : Jurnal Sosial, Filsafat dan KomunikasiSOSFILKOM : Jurnal Sosial, Filsafat dan Komunikasi

Kemiskinan merupakan isu permasalahan negara berkembang termasuk Indonesia. Jumlah penduduk miskin pasca pandemi covid-19 mengalami peningkatan, demikian juga di Kabupaten Temanggung. Dalam upaya penanggulangan kemiskinan, Kabupaten Temanggung melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui KUBE dari KPM PKH. Diharapkan dengan program KUBE ini mereka dapat mengembangkan potensinya dan dapat mandiri sehingga bisa meningkatkan kesejahteraannya, yang pada akhirnya dapat keluar dari kemiskinan. Metode penelitian yang dilakukan untuk meneliti KUBE adalah kualitatif, teknik pencarian data dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi, dengan jenis data primer dan sekunder, adapun proses analisis data adalah dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Tulisan ini mencoba meninjau Program pemberdayaan masyarakat melalui KUBE dengan Filsafat Kritisisme Immanuel Kant yang mensintesakan antara Filsafat Rasionalisme yang mengutamakan pengetahuan (a priori) yaitu teori-teori dari para ahli tentang Kemiskinan, pemberdayaan masyarakat dan KUBE dengan Filsafat Empirisme yang mengutamakan pengalaman (a posteriori) yaitu pengalaman-pengalaman para pelaku KUBE di lapangan baik dari anggota, pengurus, pendamping sosial, dan lainnya. Berdasarkan penggabungan atau sintesa kedua hal ini akan muncul hal-hal baru yang bisa menjadi saran masukan dalam pemberdayaan masyarakat sehingga dapat lebih mengoptimalkan pelaksanaan program KUBE.

Program pemberdayaan masyarakat melalui KUBE merupakan alternatif strategis dalam percepatan penanggulangan kemiskinan.Pendekatan Filsafat Kritisisme Immanuel Kant yang mensintesis antara teori (a priori) dan pengalaman lapangan (a posteriori) memberikan kerangka analisis komprehensif terhadap efektivitas KUBE.Hasil sintesis ini menghasilkan rekomendasi konkret untuk mengoptimalkan pelaksanaan KUBE dan meminimalkan kegagalan melalui pemanfaatan pembelajaran dari praktik nyata.

Pertama, perlu penelitian tentang bagaimana pemetaan potensi individu anggota KUBE dapat dirancang secara sistematis agar jenis usaha yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan keahlian dan sumber daya lokal, sehingga keberlanjutan usaha lebih terjamin. Kedua, perlu dikaji lebih dalam model peningkatan kapasitas anggota KUBE yang tidak hanya fokus pada pelatihan teknis, tetapi juga mencakup keterampilan manajerial, keuangan, dan kepemimpinan secara berkelanjutan. Ketiga, penting untuk mengeksplorasi bentuk pendampingan sosial yang lebih efektif dan adaptif, termasuk keterlibatan pihak ketiga seperti akademisi atau pelaku usaha sukses, untuk memperkuat solidaritas kelompok dan memperluas akses pasar serta pembiayaan. Pengembangan sistem kemitraan antara KUBE dengan program pemerintah lain atau dana CSR perusahaan juga perlu diteliti agar usaha kelompok tidak mandek karena keterbatasan modal. Selain itu, penelitian bisa menguji integrasi teknologi digital dalam pemasaran dan pencatatan keuangan KUBE untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi. Studi juga diperlukan untuk memahami faktor-faktor sosial budaya yang memengaruhi kerja sama atau konflik internal dalam kelompok, agar intervensi pendampingan bisa lebih tepat sasaran. Idealnya, penelitian lanjutan menguji kombinasi antara penguatan internal kelompok dan akses eksternal secara terpadu. Model uji coba dengan pendampingan terstruktur yang mencakup pelatihan, pendampingan intensif, dan akses jaringan dapat dievaluasi efektivitasnya secara longitudinal. Temuan dari penelitian semacam ini akan sangat berguna untuk menyempurnakan kebijakan pemberdayaan berbasis kelompok di tingkat kabupaten maupun nasional.

Read online
File size445.93 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test