169169

PANTUN: Jurnal Ilmiah Seni BudayaPANTUN: Jurnal Ilmiah Seni Budaya

Sumur 7 Cibulan Kuningan, Jawa Barat, adalah objek wisata religi yang tidak pernah sepi dikunjungi masyarakat. Salah satu faktornya, Sumur 7 ini lekat dengan mitos yang diyakini masyarakat sebagai salah satu petilasan Prabu Siliwangi. Fokus kajian ini pada identifikasi tanda-tanda yang terdapat di area Sumur 7 sebagai pembentuk sakralitas yang diyakini oleh masyarakatnya. Semiotika Ferdinand de Saussure digunakan untuk menganalisis struktur pembentukan tanda sakralitas pada Sumur 7. Konsep dasar dari semiotika Saussure adalah sistem dikotomi tanda yakni penanda dan petanda. Penanda merupakan aspek material sedangkan petanda merupakan aspek mental. Ditemukan bahwa, penamaan ketujuh sumur dan pemetaan atau penempatan nomor urut tahapan kunjungan merupakan tanda-tanda yang memiliki relasi dengan mitos Prabu Siliwangi dan konsep Tritangtu Sunda. Relasi tanda-tanda inilah yang membentuk sistem keyakinan masyarakat terhadap sakralitas Sumur 7 Cibulan.

Sesuatu yang sakral tidak semata-mata bisa menjadi sakral jika tidak ada tanda-tanda yang mendukungnya.Sesuatu yang sakral bisa menjadi sakral jika ada suatu kekuatan diluar dunia dan kekuatan manusia hadir di tempat tersebut.Entitas tersebut memanifestasikan dirinya kepada manusia melalui objek yang ada di dunia manusia.Manifestasi ini bisa dilihat dan dijadikan tanda-tanda dalam menentukan sebuah tempat yang dianggap sakral.Sumur 7 dipercaya oleh masyarakat Kabupaten Kuningan bahkan masyarakat di luar daerah sebagai tempat yang sakral.Jika dilihat dari tanda-tanda yang terdapat pada sumur 7 maka penyakralan yang dilakukan bukan tanpa alasan.Mitos mengenai petilasan Prabu Siliwangi menghadirkan sebuah tanda yang bisa dibaca.Menurut mitos tersebut munculnya mata air sumur 7 dikarenakan Prabu Siliwangi meminta air kepada kekuatan di luar kuasa manusia.Keluarnya mata air ini bisa dijadikan sebuah penanda akan petanda bahwa sang pencipta telah menurunkan rahmat-Nya kepada Prabu Siliwangi.Munculnya mata air ini merupakan manifestasi dari sesuatu yang sakral yang menampakkan dirinya kepada Prabu Siliwangi.Sebuah tempat bisa menjadi sakral apabila Sang Hyang Hurip hadir di dalamnya.Sang Hyang Hurip bisa hadir jika tempat tersebut memiliki simbol Tekad, Ucap, dan Lampah.Simbol-simbol ini merupakan konsep pola tiga Sunda atau bisa disebut Tritangtu.Simbol Tekad atau langit diwakili oleh mata air yang berjumlah tujuh di area sumur 7.Simbol Ucap atau manusia diwakilkan oleh adanya batu petilasan yang ada dalam bangunan khusus di area sumur 7.Simbol tekad dikawinkan dengan simbol lampah yang menghadirkan sebuah harmoni yaitu simbol ucap yang nantinya menjadi pancer dari area Sumur 7.Melihat tanda atau simbol yang ada pada Sumur 7, maka syarat-syarat agar Sang Hyang Hurip hadir di sumur 7 bisa terpenuhi.Penamaan tersebut bertujuan sebagai penanda dari makna atau petanda yang terkandung dalam nama itu sendiri.Keberkahan atau khasiat dari Sumur 7 bisa diketahui dari masing-masing nama tersebut.Urutan penomoran juga merupakan sebuah penanda yang memiliki makna di baliknya (petanda).Penomoran sumur 7 yang berlawanan dengan arah jarum jam memiliki makna mengenai hubungan Sang Pencipta kepada manusia.Dilihat dari mitos Prabu Siliwangi dan arti nama dari setiap Sumur 7 bisa diartikan bahwa Sang Pencipta menurunkan rahmat dan berkahnya kepada manusia.Penyakralan terhadap Sumur 7 tidak bisa dipungkiri menjadi salah satu daya tarik bagi pariwisata di Kabupaten Kuningan khususnya Objek Wisata Cibulan dan Sumur 7.Mitos dan kepercayaan yang beredar menjadikan area Sumur 7 menjadi wisata religi yang ramai dikunjungi peziarah.Meskipun dipercaya bisa memberikan keberkahan, bukan berarti semata-mata kesakralan dari Sumur 7 yang memberikan keberkahan tersebut.Sumur 7 hanya sebagai sarana dan tempat berdoa agar bisa diberikan keberkahan oleh yang maha kuasa.

Berdasarkan hasil penelitian ini, saran-saran penelitian lanjutan yang dapat diusulkan adalah: Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih mendalam mengenai mitos Prabu Siliwangi dan hubungannya dengan Sumur 7, termasuk analisis lebih rinci tentang makna dan simbol-simbol yang terkandung dalam mitos tersebut. Kedua, penelitian tentang pengaruh kepercayaan masyarakat terhadap Sumur 7 terhadap perilaku dan motivasi wisatawan yang berkunjung ke objek wisata Cibulan. Ketiga, studi komparatif tentang penyakralan tempat-tempat lain di Indonesia yang juga dikaitkan dengan mitos dan kepercayaan lokal, untuk memahami bagaimana kepercayaan dan mitos membentuk identitas dan daya tarik wisata religi di berbagai daerah.

Read online
File size716.11 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test