JQWHJQWH

Journal for Quality in Women's HealthJournal for Quality in Women's Health

Imunisasi sebagai salah satu upaya pencegahan preventif yang berdampak positif terhadap kesehatan masyarakat harus dilaksanakan secara terus-menerus, menyeluruh, dan sesuai standar. Imunisasi juga dapat menimbulkan dampak yang tidak diinginkan seperti efek panas setelah imunisasi DPT (Pertusis Difteri Tetanus) dan Campak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang cara penanganan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) pada bayi usia 0-1 tahun. Jenis penelitian adalah deskriptif dengan rancangan survey. Variabel penelitian adalah pengetahuan ibu tentang cara penanganan kejadian ikutan pasca imunisasi pada bayi usia 0-1 tahun. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki bayi usia 0-1 tahun sebanyak 36 orang, dan sampelnya adalah seluruh populasi. Teknik sampling yang digunakan adalah non-probability sampling tipe total sampling. Penelitian dilakukan di Puskesmas Mojosari Mojokerto pada periode September 2019 hingga Februari 2020. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Pengolahan data dilakukan melalui editing, coding, scoring, tabulating, dan dianalisis secara persentase. Hasil penelitian menunjukkan hampir setengah responden memiliki pemahaman yang kurang dalam menangani tanda dan gejala pasca imunisasi pada bayi usia 0-1 tahun, yaitu sebanyak 15 responden (41,7%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pengetahuan ibu tentang cara penanganan kejadian ikutan pasca imunisasi pada bayi usia 0-1 tahun di Puskesmas Mojosari Mojokerto tergolong kurang.

Pengetahuan ibu tentang cara menangani kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) pada bayi usia 0-1 tahun di Puskesmas Mojosari Kabupaten Mojokerto tergolong kurang.Hal ini ditunjukkan oleh sebanyak 15 responden (41,7%) yang memiliki pengetahuan yang kurang memadai.Rendahnya pengetahuan ini dapat memengaruhi keputusan ibu dalam memberikan penanganan yang tepat terhadap efek samping imunisasi pada bayi.

Pertama, perlu dilakukan penelitian tentang efektivitas metode edukasi kesehatan berbasis digital, seperti aplikasi atau pesan singkat, dalam meningkatkan pengetahuan ibu tentang penanganan KIPI dibandingkan dengan edukasi konvensional di puskesmas. Kedua, penting untuk mengeksplorasi peran keluarga inti selain ibu, seperti ayah atau kakek-nenek, dalam memberikan penanganan pasca imunisasi melalui studi kualitatif yang mendalam mengenai dinamika pengambilan keputusan di rumah tangga. Ketiga, diperlukan penelitian lanjutan yang menguji pengaruh intervensi edukasi terstruktur berulang sebelum dan sesudah imunisasi terhadap perubahan pengetahuan dan perilaku nyata ibu dalam menangani gejala KIPI secara mandiri dan tepat, dengan pengamatan langsung selama beberapa bulan. Penelitian-penelitian ini dapat melengkapi temuan saat ini yang menunjukkan masih rendahnya pengetahuan ibu, serta memberikan gambaran lebih komprehensif tentang pendekatan terbaik dalam pemberian informasi kesehatan. Dengan memahami metode edukasi yang paling efektif, peran anggota keluarga lain, dan dampak jangka panjang intervensi, dapat dikembangkan program pendidikan kesehatan yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan. Strategi ini diharapkan mampu meningkatkan kompetensi ibu dalam mengatasi KIPI tanpa kecemasan berlebih. Selain itu, pendekatan multiaspek seperti ini dapat mengurangi beban layanan kesehatan akibat kunjungan tidak perlu setelah imunisasi. Fokus pada aspek perilaku dan sosial dalam konteks lokal juga penting untuk memastikan relevansi dan penerimaan intervensi. Melalui pendekatan penelitian yang terintegrasi, diharapkan kualitas penanganan pasca imunisasi dapat ditingkatkan secara signifikan.

  1. Pengetahuan Ibu Tentang Cara Penanganan Kejadian Ikutan Paska Imunisasi (KIPI) Pada Bayi Usia 0-1 Tahun... doi.org/10.30994/jqwh.v3i1.53Pengetahuan Ibu Tentang Cara Penanganan Kejadian Ikutan Paska Imunisasi KIPI Pada Bayi Usia 0 1 Tahun doi 10 30994 jqwh v3i1 53
Read online
File size534.5 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test