JQWHJQWH

Journal for Quality in Women's HealthJournal for Quality in Women's Health

Perdarahan post partum penyebab utama kematian ibu di negara berkembang. Salah satu faktor penyebabnya adalah tindakan induksi persalinan (oksitosin drip). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tata laksana induksi dengan kejadian perdarahan post partum pada persalinan pervaginam presentasi kepala di RSUD Gambiran Kediri. Metode penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pendekatan Case Control. Populasi yang diteliti adalah seluruh ibu bersalin sejumlah 32 ibu. Sampel dengan menggunakan teknik purposive sampling pada kelompok kasus sejumlah 15 responden dan kelompok kontrol sejumlah 15 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel yang teliti adalah tata laksana induksi dan kejadian perdarahan post partum. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi. Analisa data menggunakan uji Chi-Square dengan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan tata laksana induksi (oksitosin drip) bahwa setengahnya yakni 15 responden (50%) diinduksi tata laksana induksi (oksitosin drip) dan 15 responden (50%) tidak diinduksi tata laksana induksi (oksitosin drip). Serta sebagian besar yakni 17 responden (56,7%) terjadi perdarahan post partum. Hasil analisis menggunakan Chi-Square menunjukkan p-value 0,010 yang kurang dari α (0,05) yang berarti ada hubungan tata laksana induksi dengan kejadian perdarahan post partum persalinan pervaginam presentasi kepala di RSUD Gambiran Kediri. Induksi persalinan (oksitosin drip) dapat meningkatkan kontraksi uterus lebih sering dan kuat. Oksitosin digunakan secara tidak tepat dapat menyebabkan kelelahan otot miometrium sehingga uterus tidak mampu berkontraksi, pembuluh darah ditempat implantasi plasenta terbuka tidak terjepit oleh otot uterus sehingga dapat menyebabkan perdarahan post partum.

Tata Laksana Induksi Pada Persalinan Pervaginam Presentasi Kepala di RSUD Gambiran Kediri diketahui bahwa setengahnya yakni 15 responden (50%) ibu bersalin diinduksi tata laksana induksi (oksitosin drip) dan setengahnya yakni 15 responden (50%) ibu bersalin tidak diinduksi tata laksana induksi (oksitosin drip) dari total 30 responden.Perdarahan Post Partum Pada Persalinan Pervaginam Presentasi Kepala di RSUD Gambiran Kediri diketahui bahwa sebagian besar yakni 17 responden (56,7%) terjadi perdarahan post partum dari total 30 responden.Hasil analisa uji Chi-Square menunjukkan p-value = 0,010 < α (0,05) yang berarti H0 ditolak dan H1 diterima sehingga ada hubungan tata laksana induksi dengan kejadian kejadian perdarahan post partum pada persalinan pervaginam presentasi kepala di RSUD Gambiran Kediri.

Penelitian ini memberikan wawasan penting tentang hubungan antara tata laksana induksi persalinan dan kejadian perdarahan post partum. Untuk penelitian lanjutan, ada beberapa arah yang dapat dieksplorasi guna memperdalam pemahaman dan meningkatkan keselamatan ibu. Pertama, mengingat temuan adanya pemantauan tetesan oksitosin yang kurang tepat, penelitian dapat mengkaji efektivitas implementasi sistem pemantauan oksitosin yang lebih canggih dan real-time, seperti penggunaan teknologi sensor atau protokol pemantauan digital. Pertanyaan penelitiannya bisa berupa: Seberapa besar penurunan insiden perdarahan post partum dapat dicapai dengan penerapan sistem pemantauan tetesan oksitosin otomatis dan berkelanjutan dibandingkan dengan metode manual konvensional?. Kedua, studi ini juga menyiratkan adanya variasi respons individu terhadap oksitosin. Oleh karena itu, penelitian lanjutan dapat menyelidiki faktor-faktor farmakogenetik atau biomarker fisiologis yang mempengaruhi respons uterus terhadap oksitosin. Hal ini akan membantu dalam mengembangkan pendekatan personalisasi dosis induksi. Misalnya, Apakah terdapat genotipe atau profil hormonal tertentu pada ibu hamil yang dapat memprediksi risiko kelelahan miometrium dan perdarahan post partum saat induksi oksitosin, sehingga memungkinkan penyesuaian dosis yang lebih aman?. Ketiga, meskipun penelitian ini berfokus pada induksi, dijelaskan bahwa perdarahan post partum juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti usia dan paritas. Studi di masa depan dapat mengeksplorasi interaksi kompleks antara induksi persalinan, faktor risiko demografi (usia, paritas), dan kondisi komorbiditas ibu (misalnya anemia, hipertensi) dalam meningkatkan risiko perdarahan post partum. Pertanyaan yang relevan bisa: Bagaimana kombinasi dari faktor usia ibu yang ekstrem dan riwayat persalinan multipel, bersama dengan induksi oksitosin, secara sinergis meningkatkan risiko dan keparahan perdarahan post partum, dan bagaimana profil risiko ini dapat diintegrasikan dalam pengambilan keputusan klinis? Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan dasar yang kuat untuk pedoman praktik klinis yang lebih baik dan intervensi preventif yang lebih efektif.

Read online
File size376.24 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test