LMULMU

Buletin Profesi InsinyurBuletin Profesi Insinyur

Briket biomassa merupakan salah satu bahan bakar alternatif dari bahan baku organik yang sangat berpotensi sebagai pengganti batu bara. Penelitian ini menggunakan ampas tebu dan sawi pakcoy (Brassica juncea L) sebagai bahan baku. Ampas tebu merupakan limbah industri gula yang belum dimanfaatkan secara optimal, sementara sawi pakcoy yang tidak terpakai memiliki hasil pasca panen yang melimpah dan sering dibuang begitu saja. Bahan baku tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar dengan dikombinasikan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kualitas briket dari kombinasi limbah sawi hijau dan ampas tebu. Briket dibuat melalui proses karbonisasi ampas tebu (S) dan limbah sayuran (T) pada suhu 400°C dengan variasi waktu 10, 20, 30, dan 45 menit. Arang ampas tebu dan limbah sayuran dicampur dengan perbandingan 1:0, 1:1, 1:2, 2:1, 3:1, kemudian ditambahkan bahan perekat tepung tapioka sebesar 20% dari berat briket. Campuran dicetak dalam pipa berdiameter 2,5 cm dan panjang 3 cm, lalu dikeringkan menggunakan microwave pada suhu 105°C selama 4 jam. Hasil optimal diperoleh pada perbandingan S:T 1:2 b/b dengan waktu karbonisasi 45 menit, menghasilkan kadar air 1,783%, laju pembakaran 0,1097 g/menit, dan nilai kalor 9686,224 kal/g. Briket dari perpaduan limbah sawi hijau dan ampas tebu dapat digunakan sebagai salah satu energi alternatif.

Limbah sayuran sawi hijau dan ampas tebu dapat diproses menjadi briket melalui proses karbonisasi pada suhu 400°C.Perbandingan arang limbah sayuran dan arang ampas tebu sangat memengaruhi nilai kalor, kadar air, serta laju pembakaran briket.Briket dengan komposisi optimal memiliki kadar air rendah, laju pembakaran terkendali, dan nilai kalor tinggi, sehingga layak digunakan sebagai sumber energi alternatif.

Pertama, perlu diteliti pengaruh variasi jenis dan konsentrasi bahan perekat alami terhadap kekuatan fisik dan efisiensi pembakaran briket dari campuran ampas tebu dan sawi pakcoy, mengingat tepung tapioka berpotensi menyerap air dan menurunkan kualitas briket dalam penyimpanan jangka panjang. Kedua, perlu dikaji performa briket dalam aplikasi nyata seperti memasak di restoran atau hotel, untuk mengetahui daya tahan, kepraktisan, dan emisi gas selama penggunaan sehari-hari dibandingkan bahan bakar konvensional. Ketiga, perlu dilakukan penelitian tentang dampak ekonomi dan lingkungan dari skala produksi briket ini di tingkat komunitas petani dan industri gula, termasuk model pengelolaan limbah terintegrasi yang melibatkan petani sayuran dan pabrik gula dalam rantai pasok energi terbarukan lokal.

  1. PEMBUATAN BRIKET AMPAS TEBU DAN SEKAM PADI MENGGUNAKAN METODE PIROLISIS SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF | Jurnal... publikasiilmiah.unwahas.ac.id/index.php/inteka/article/view/4449PEMBUATAN BRIKET AMPAS TEBU DAN SEKAM PADI MENGGUNAKAN METODE PIROLISIS SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF Jurnal publikasiilmiah unwahas ac index php inteka article view 4449
  2. Analisis perbandingan bahan dan jumlah perekat terhadap briket tempurung kelapa dan ampas tebu: Comparative... jurnal.yudharta.ac.id/v2/index.php/Teknologi-Pangan/article/view/1899Analisis perbandingan bahan dan jumlah perekat terhadap briket tempurung kelapa dan ampas tebu Comparative jurnal yudharta ac v2 index php Teknologi Pangan article view 1899
  3. UJI KEKUATAN TARIK KERTAS DAUR ULANG CAMPURAN AMPAS TEBU, SERABUT KELAPA, DAN KERTAS BEKAS | AME (Aplikasi... ejournal.uika-bogor.ac.id/index.php/ame/article/view/2871UJI KEKUATAN TARIK KERTAS DAUR ULANG CAMPURAN AMPAS TEBU SERABUT KELAPA DAN KERTAS BEKAS AME Aplikasi ejournal uika bogor ac index php ame article view 2871
Read online
File size367.97 KB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test