PresUnivPresUniv

AEGIS : Journal of International RelationsAEGIS : Journal of International Relations

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Bali semakin mengadopsi model bisnis hijau untuk menjaga keberlanjutan usaha lokal sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Dengan peran pentingnya dalam perekonomian daerah, UMKM Bali berpotensi mengembangkan praktik berkelanjutan sekaligus menciptakan lapangan kerja hijau yang inklusif. Penelitian ini menganalisis penerapan Model Heksagon untuk Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) yang dipadukan dengan teori big push guna membuka peluang tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui wawancara dan tinjauan pustaka, menemukan perlunya penguatan ekosistem dan sumber daya untuk memungkinkan UMKM menghasilkan pekerjaan yang efektif, produktif, dan inklusif. Meskipun memiliki potensi strategis, UMKM hijau menghadapi tantangan seperti kurangnya kesadaran tentang praktik ramah lingkungan, keterbatasan pembiayaan, dan kolaborasi lintas sektor yang lemah. Model Heksagon menawarkan kerangka terstruktur bagi pembuat kebijakan dan praktisi untuk membangun sinergi, memperluas perspektif, dan merumuskan strategi konkret penciptaan lapangan kerja berkelanjutan. Dengan menghubungkan aktor hulu dan hilir dalam ekosistem bisnis lokal, sektor UMKM hijau di Bali tampil sebagai model replikasi bagi negara-negara Global South, menciptakan peluang kerja bagi kelompok usia produktif maupun kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas.

Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan Model Heksagon dalam pengembangan UMKM hijau di Bali dapat menjadi strategi efektif untuk menciptakan lapangan kerja berkelanjutan dan inklusif.Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan UMKM sangat penting untuk memperkuat ekosistem dan mengatasi tantangan yang dihadapi UMKM hijau, seperti kurangnya kesadaran dan keterbatasan pembiayaan.Bali dapat menjadi model bagi negara-negara di Global South dalam menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan dan penciptaan lapangan kerja yang layak.

Berdasarkan temuan penelitian, beberapa saran penelitian lanjutan dapat dipertimbangkan. Pertama, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara mendalam faktor-faktor spesifik yang menghambat adopsi praktik ramah lingkungan oleh UMKM di Bali, termasuk hambatan finansial, teknis, dan pengetahuan. Kedua, studi komparatif dapat dilakukan untuk membandingkan efektivitas Model Heksagon dalam konteks pengembangan ekonomi lokal di berbagai wilayah di Indonesia atau negara-negara Global South lainnya, dengan mempertimbangkan perbedaan karakteristik sosial, ekonomi, dan lingkungan. Ketiga, penelitian dapat difokuskan pada pengembangan model bisnis hijau yang inovatif dan berkelanjutan untuk UMKM di Bali, dengan mempertimbangkan potensi pemanfaatan sumber daya lokal dan teknologi ramah lingkungan, serta kebutuhan pasar yang terus berkembang. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam merumuskan kebijakan dan program yang lebih efektif untuk mendukung pengembangan UMKM hijau dan menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan di Bali dan wilayah lainnya.

  1. The role of Local Economic Development Agencies in South Africa’s developmental state ambitions... doi.org/10.1177/0269094218766459The role of Local Economic Development Agencies in South AfricaAos developmental state ambitions doi 10 1177 0269094218766459
Read online
File size344.65 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test