USNSJUSNSJ

Journal of Biological Science and EducationJournal of Biological Science and Education

Penelitian tentang Bioekologi Kepiting Kelapa (Birgus latro L.) di Pulau Kaledupa bertujuan untuk mengetahui karakteristik biologis (pengukuran morfometrik berupa panjang dan lebar karapas, panjang sefalotoraks ditambah rostrum (Cp r), serta bobot tubuh) dan karakteristik ekologis (ukuran populasi) kepiting kelapa yang terdapat di Pulau Kaledupa. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode CMRR (Capture-Mark-Release-Recapture). Teknik analisis data yang digunakan meliputi: (1) morfometri kepiting kelapa yang dianalisis secara deskriptif dengan menghitung rata-rata panjang dan lebar karapas, panjang sefalotoraks rostrum, dan bobot tubuh; (2) data rasio jenis kelamin dan estimasi populasi dianalisis secara kuantitatif. Hasil analisis menunjukkan pengukuran morfometri tertinggi terdapat pada panjang karapas dengan rata-rata 6,37 cm, lebar karapas 6,03 cm, dan panjang sefalotoraks rostrum 10,06 cm, yang ditemukan di Stasiun I (Pulau Hoga, Dusun Furake). Kondisi ini disebabkan oleh stasiun tersebut memiliki kondisi lingkungan yang masih alami dan terdapat liang atau gua sebagai tempat persembunyian kepiting kelapa, serta termasuk kawasan Taman Nasional Wakatobi yang dilindungi, dilengkapi vegetasi kelapa dan semak belukar sebagai sumber makanan. Sebaliknya, pengukuran morfometri terendah diperoleh pada panjang karapas rata-rata 5,62 cm, lebar karapas 5,49 cm, dan panjang sefalotoraks rostrum 9,044 cm di Stasiun II (Desa Sombano), diduga karena habitatnya telah terkonversi menjadi lahan perkebunan sehingga banyak tempat persembunyian kepiting kelapa yang rusak. Perbandingan rasio jenis kelamin jantan dan betina adalah 13:7.

) di Pulau Kaledupa memiliki rata-rata morfometri tertinggi di Stasiun I (Pulau Hoga, Dusun Furake) karena kondisi lingkungan yang masih alami dan merupakan kawasan terlindungi, sehingga mendukung kelangsungan hidup spesies tersebut.Sebaliknya, rata-rata morfometri terendah ditemukan di Stasiun II (Desa Sombano) akibat konversi habitat menjadi lahan perkebunan yang merusak tempat persembunyian kepiting kelapa.Ukuran populasi kepiting kelapa di Pulau Kaledupa sebanyak 20 individu dengan rasio jenis kelamin 13 jantan dan 9 betina, menunjukkan populasi yang terancam dan perlu upaya konservasi lebih lanjut.

Pertama, perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh perubahan tutupan lahan terhadap pola distribusi dan kelangsungan hidup kepiting kelapa di berbagai pulau di kawasan Wakatobi, untuk memahami sejauh mana aktivitas manusia seperti pembukaan lahan perkebunan memengaruhi habitat spesies ini. Kedua, penting untuk mengkaji dinamika reproduksi kepiting kelapa berdasarkan rasio jenis kelamin dan ketersediaan tempat bertelur, terutama di kawasan yang memiliki tekanan eksploitasi tinggi, agar dapat diketahui potensi regenerasi alami populasi di masa depan. Ketiga, perlu dikembangkan penelitian tentang efektivitas kawasan terlindung seperti Taman Nasional Wakatobi dalam menjaga keberlangsungan populasi kepiting kelapa, termasuk evaluasi terhadap tingkat kepatuhan masyarakat terhadap aturan konservasi, sehingga dapat dirancang strategi perlindungan yang lebih partisipatif dan berkelanjutan. Penelitian-penelitian ini dapat memberikan dasar ilmiah yang kuat untuk kebijakan konservasi jangka panjang. Dengan memahami faktor lingkungan, reproduksi, dan perlindungan kawasan secara komprehensif, upaya penyelamatan spesies endemik ini akan lebih terarah dan efektif. Studi lanjutan sebaiknya dilakukan secara berkala dan melibatkan masyarakat lokal sebagai mitra penting dalam pengamatan di lapangan. Keterlibatan masyarakat dapat meningkatkan keberhasilan konservasi sekaligus memberdayakan ekonomi lokal secara berkelanjutan. Fokus pada tiga aspek utama—habitat, reproduksi, dan perlindungan—akan memberikan gambaran utuh tentang kondisi populasi kepiting kelapa. Penelitian yang menyeluruh dan melibatkan banyak pihak sangat dibutuhkan untuk mencegah kepunahan spesies ini di alam liar. Hasil yang diperoleh dapat menjadi acuan bagi pengelolaan sumber daya hayati di wilayah pesisir lainnya. Konservasi spesies unik seperti kepiting kelapa harus dilakukan secara ilmiah, sistematis, dan melibatkan komunitas setempat agar berkelanjutan.

Read online
File size1.02 MB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test