POLTEKBANGSBYPOLTEKBANGSBY

Jurnal PenelitianJurnal Penelitian

Aluminum alloy banyak digunakan pada industri manufaktur dirgantara sebagai material struktur pesawat terbang karena memiliki sifat yang ringan namun kuat. Aluminum alloy 2024 sering digunakan pada skin pesawat terbangPengujian yang dilakukan dengan cara Aluminum Alloy 2024-T3 di heat treatment pada suhu 100, 150 dan 200 °C dengan waktu tahan 60 menit, 90 menit dan 120 menit kemudian di quenching menggunakan air. Setelah dilakukan heat treatment dan quenching Aluminum Alloy 2024-T3 di uji tarik, uji kekerasan brinell, dan pengamatan struktur mikro dari Aluminum Alloy 2024-T3. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa heat treatment dan quenching pada Aluminum Alloy 2024-T3, diperoleh nilai tensile stress rata-rata tertinggi pada suhu 150 °C dengan waktu tahan 90 menit sebesar 154,52 Mpa, kekerasan rata-rata teringgi pada suhu 150 °C dengan waktu tahan 120 menit sebesar 95,66 HBW.

Pengujian heat treatment tidak menunjukkan perubahan signifikan pada sifat fisis seperti panjang atau lebar spesimen.Perlakuan panas dan quenching pada Aluminum Alloy 2024-T3 menghasilkan nilai tensile stress tertinggi pada suhu 150 °C dengan waktu tahan 90 menit.Sementara itu, nilai kekerasan tertinggi dicapai pada suhu 150 °C dengan waktu tahan 120 menit, dan kerapatan struktur mikro sangat memengaruhi baik hasil uji tarik maupun uji kekerasan.

Penelitian ini telah menunjukkan bahwa perlakuan panas dan quenching dapat secara signifikan memengaruhi sifat fisis dan mekanis Aluminum Alloy 2024-T3, dengan kondisi optimal ditemukan pada suhu dan waktu tertentu. Namun, masih ada beberapa area menarik yang bisa diteliti lebih lanjut untuk memperkaya pemahaman kita tentang material ini. Pertama, akan sangat bermanfaat untuk menyelidiki bagaimana penggunaan media pendingin (quenching media) yang berbeda, seperti minyak, udara bertekanan, atau larutan garam, dapat mengubah mikrostruktur dan sifat mekanis paduan aluminium 2024-T3 setelah perlakuan panas. Apakah variasi dalam laju pendinginan ini mampu menghasilkan kombinasi kekuatan tarik dan kekerasan yang lebih baik, atau mungkin dapat mengurangi dampak negatif dari fenomena over-aging yang teramati pada suhu tinggi? Kedua, mengingat pentingnya Aluminum Alloy 2024 dalam aplikasi dirgantara, perlu dilakukan studi yang lebih mendalam mengenai kinerja jangka panjang material ini, khususnya dalam hal ketahanan lelah (fatigue resistance) dan ketahanan korosi, setelah menjalani perlakuan panas dan quenching yang telah dioptimalkan. Dengan memahami bagaimana perlakuan ini memengaruhi durabilitas material di bawah kondisi operasional yang sesungguhnya, kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang potensi aplikasinya. Ketiga, fenomena over-aging yang terjadi pada suhu 200 °C dan menyebabkan penurunan sifat mekanis merupakan area krusial yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Bagaimana kinetika pembentukan dan pertumbuhan presipitat berubah pada suhu di atas kondisi optimal, dan apakah ada strategi perlakuan panas modifikasi, seperti perlakuan dua tahap (two-step aging), yang dapat mencegah atau bahkan membalikkan efek negatif dari over-aging, sehingga material tetap memiliki sifat mekanis yang superior?.

Read online
File size1.11 MB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test