POLTEKKES DENPASARPOLTEKKES DENPASAR

International Conference on Multidisciplinary Approaches in Health ScienceInternational Conference on Multidisciplinary Approaches in Health Science

Pekerja seks wanita (PSW) sering menganggap pekerjaan mereka sebagai pilihan yang lebih menarik dibandingkan dengan pengangguran. Namun, frekuensi aktivitas seksual yang tinggi menempatkan mereka pada risiko signifikan terhadap infeksi menular seksual (IMS). Trikomoniasis, yang disebabkan oleh protozoa Trichomonas vaginalis, adalah IMS non-viral paling umum di seluruh dunia. Penelitian ini bertujuan untuk menilai karakteristik PSW di Kota Kupang, menentukan prevalensi infeksi Trichomonas vaginalis di antara mereka, dan mengevaluasi pengetahuan mereka tentang praktik pencegahan dan kebersihan pribadi terkait infeksi tersebut. Metode penelitian deskriptif digunakan. Hasil menunjukkan bahwa dari 34 PSW yang disurvei, 5 (14,7%) terinfeksi T. vaginalis. Penelitian menemukan bahwa mayoritas PSW berusia 32 tahun atau lebih muda (21 wanita, 61,8%), memiliki pendidikan sekolah menengah pertama (14 wanita, 41,2%), dan bercerai (21 wanita, 61,8%). Sebagian besar memiliki pengalaman seksual pertama setelah usia 18 tahun (25 wanita, 73,53%) dan mulai bekerja sebagai PSW setelah usia 25 tahun (23 wanita, 67,65%). Sebagian besar telah bekerja sebagai PSW selama enam tahun atau kurang (22 wanita, 64,70%), melayani lebih dari 15 klien per minggu (23 wanita, 67,65%), dan memperoleh penghasilan IDR 2.674.000 atau kurang per minggu (19 wanita, 55,88%). Selain itu, 21 wanita (61,76%) melaporkan menggunakan kondom, dan 27 wanita (79,41%) secara teratur menjalani pemeriksaan kesehatan. Selain itu, 28 PSW (82,36%) menunjukkan pengetahuan yang baik tentang Trichomonas vaginalis.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa mayoritas PSW di Kupang berusia di bawah 32 tahun (61,8%), dengan sebagian besar memiliki pendidikan sekolah menengah pertama (41,2%).Sebagian besar bercerai (61,8%), dan kebanyakan memiliki pengalaman seksual pertama setelah usia 18 tahun (73,33%).Banyak PSW memasuki profesi setelah usia 25 tahun (67,65%), bekerja selama enam tahun atau kurang (64,70%), dan melayani lebih dari 15 klien per minggu (55,88%).Meskipun lingkungan pekerjaan mereka berisiko tinggi, prevalensi infeksi Trichomonas vaginalis di antara PSW relatif rendah, yaitu 14,70%, dengan hanya 5 dari 34 responden yang positif.Prevalensi rendah ini dapat dikaitkan dengan tingkat pengetahuan yang tinggi tentang T.vaginalis, di mana 82,36% PSW memiliki pengetahuan yang baik tentang infeksi tersebut.Selain itu, 61,76% PSW melaporkan penggunaan kondom secara teratur, dan 79,41% sering mencari layanan kesehatan untuk pemeriksaan rutin.Hasil ini menekankan pentingnya pendidikan dan aksesibilitas layanan kesehatan dalam mengurangi risiko IMS di kalangan populasi berisiko tinggi seperti PSW.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk melakukan studi komparatif antara PSW di Kupang dengan PSW di daerah lain untuk memahami perbedaan prevalensi dan faktor risiko infeksi Trichomonas vaginalis. Selain itu, penelitian kualitatif dapat dilakukan untuk menyelidiki lebih lanjut praktik pencegahan dan perilaku kesehatan PSW, serta faktor-faktor sosial dan budaya yang mempengaruhi pengetahuan dan perilaku mereka. Penelitian ini juga dapat diperluas untuk mengeksplorasi strategi intervensi kesehatan yang efektif untuk mengurangi risiko IMS di kalangan PSW, termasuk aksesibilitas kondom dan pendidikan kesehatan seksual.

  1. A Study of Trichomonas vaginalis Infection and Correlates in Women with Vaginal Discharge Referred at... hindawi.com/journals/jpr/2019/2069672A Study of Trichomonas vaginalis Infection and Correlates in Women with Vaginal Discharge Referred at hindawi journals jpr 2019 2069672
Read online
File size253.25 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test