INABJINABJ

The Indonesian Biomedical JournalThe Indonesian Biomedical Journal

Latar belakang: Renogram menggunakan Technetium-99m Diethylene Triamine Pentaacetic Acid (Tc-99m DTPA) digunakan untuk mengevaluasi perfusi ginjal, laju filtrasi glomerulus (GFR), dan ekskresi urin. Pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal, eliminasi pelacak yang tertunda dapat meningkatkan akumulasi di organ non-target seperti jantung dan hati, yang mengakibatkan paparan radiasi yang lebih besar dan kualitas gambar yang berkurang. Studi yang memeriksa hubungan antara fungsi ginjal dan distribusi dosis Tc-99m DTPA masih terbatas, terutama dalam pengaturan klinis di Indonesia. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, analisis kuantitatif tingkat organ dari distribusi radiopharmaceutical Tc-99m DTPA dan dosis terserap menggunakan pendekatan Medical Internal Radiation Dose (MIRD) berdasarkan pencitraan Single Photon Emission Computed Tomography/Computed Tomography (SPECT/CT) dilakukan. Metode: Tiga puluh pasien dewasa yang menjalani renogram dikategorikan ke dalam kelompok GFR rendah (<60 mL/menit/1,73 m²) dan kelompok GFR tinggi (≥60 mL/menit/1,73 m²). Setiap pasien menerima 4–5 mCi Tc-99m DTPA secara intravena. Aktivitas organ diperoleh dari wilayah minat (ROI) pada gambar SPECT/CT, dan dosis terserap tingkat organ (mGy) dihitung menggunakan formalisme MIRD. Hasil: Pada kelompok GFR rendah, retensi pelacak di organ non-target meningkat, dengan dosis terserap hingga dua kali lebih tinggi di jantung (0,0002–0,0136 mGy) dan hati (0,0010–0,0178 mGy) dibandingkan dengan kelompok GFR tinggi. Dosis terserap ginjal berkisar dari 0,0001–0,0694 mGy, tidak menunjukkan perbedaan signifikan antara ginjal kiri dan kanan, sementara perbedaan signifikan diamati di jantung dan hati. Kesimpulan: GFR secara signifikan memengaruhi distribusi radiopharmaceutical dan dosis terserap Tc-99m DTPA. Fungsi ginjal yang berkurang meningkatkan paparan radiasi di organ non-target, sedangkan fungsi normal menghasilkan distribusi dosis ginjal yang lebih terlokalisasi.

GFR secara signifikan memengaruhi distribusi radiopharmaceutical dan dosis terserap Tc-99m DTPA.Fungsi ginjal yang berkurang meningkatkan paparan radiasi di organ non-target, sedangkan fungsi normal menghasilkan distribusi dosis ginjal yang lebih terlokalisasi.

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan untuk memperdalam pemahaman mengenai distribusi dosis radiopharmaceutical pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal. Pertama, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengeksplorasi pengaruh variasi protokol pencitraan, seperti waktu akuisisi dan dosis radiopharmaceutical, terhadap distribusi dosis dan kualitas gambar pada pasien dengan GFR yang berbeda. Hal ini penting untuk mengoptimalkan protokol pencitraan guna meminimalkan paparan radiasi yang tidak perlu. Kedua, penelitian prospektif dengan ukuran sampel yang lebih besar diperlukan untuk memvalidasi temuan ini pada populasi yang lebih beragam dan untuk mengidentifikasi faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi distribusi dosis, seperti usia, jenis kelamin, dan kondisi medis penyerta. Ketiga, pengembangan model dosimetri yang lebih akurat dan personalisasi, yang mempertimbangkan karakteristik individu pasien, dapat meningkatkan akurasi estimasi dosis dan membantu dalam perencanaan pengobatan yang lebih tepat.

  1. Localization Mechanisms of Radiopharmaceuticals | IntechOpen. localization mechanisms intechopen open... doi.org/10.5772/intechopen.94099Localization Mechanisms of Radiopharmaceuticals IntechOpen localization mechanisms intechopen open doi 10 5772 intechopen 94099
  2. Impact of GFR Stratification on Tc-99m DTPA Dose Distribution in Target and Non-Target Organs: A MIRD-Based... doi.org/10.18585/inabj.v17i5.3843Impact of GFR Stratification on Tc 99m DTPA Dose Distribution in Target and Non Target Organs A MIRD Based doi 10 18585 inabj v17i5 3843
Read online
File size2.87 MB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test