DWCUDWCU

Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict StudiesAradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies

Penelitian ini menerapkan metode hermeneutika lintas tekstual komunitarian untuk mengeksplorasi perjumpaan antara agama Kristen dan Buddhisme di Asia, khususnya melalui perbandingan dua narasi sakral: kisah pencobaan Yesus di Padang Gurun (Matius 4:1-11) dan kisah pencobaan Sidharta Gautama sebelum mencapai pencerahan. Metode ini menghubungkan teks-teks dari tradisi agama yang berbeda, menciptakan ruang untuk saling memperkaya makna. Artikel ini menunjukkan bagaimana pembacaan lintas tekstual komunitarian yang melibatkan partisipasi kedua komunitas Kristen dan Buddhis dalam menafsirkan teks-teks tersebut sehingga dapat menawarkan wawasan baru tentang tema-tema bersama, seperti pencobaan dan pencerahan spiritual. Perbandingan antara kisah pencobaan Yesus dan Sidharta Gautama mengungkapkan perjuangan psikologis dan spiritual yang serupa, seperti godaan untuk tunduk pada keinginan. Dengan mengintegrasikan kedua teks ini, penelitian ini tidak hanya memperkaya penafsiran terhadap teks Alkitab, tetapi juga mendorong dialog antaragama antara komunitas Kristen dan Buddhis, yang memungkinkan pemahaman yang lebih dalam tentang perjalanan spiritual masing-masing tradisi serta implikasinya terhadap dialog antaragama.

Orang Kristen Asia hidup di dalam hibriditas sebagai orang yang menghidupi teks Alkitab dan teks keagamaan Asia termasuk teks Buddhisme.Teks tersebut dapat memperkaya pembacaan Alkitab seperti kisah pencobaan Yesus di padang gurun.Kisah yang tercantum di dalam Matius 4.1-11 memiliki motif dan kesamaan dengan pencobaan yang dialami oleh Sidharta Gautama ketika menjelang serta sesudah mencapai pencerahan.Kedua teks telah mempertemukan dua tokoh utama dalam agama masing-masing di dalam proses persiapan mereka menuju karya yang lebih besar.Bagi teks Alkitab, kisah Sidharta Gautama memperkaya pembacaan terutama berkaiatan dengan godaan seksual dan konsep iblis.Godaan seksual merupakan tanha atau nafsu atas kenikmatan seksual yang dibangkitkan oleh Mara secara psikologis.Oleh sebab itu iblis tidak selalu dipandang sebagai pribadi tetapi kondisi yang memang sudah melekat dalam diri manusia sejak semua.Pembacaan lintas tekstual komunitarian menjadi sarana memperkaya teks suci masing-masing tetapi juga sebagai ruang dialog antara dua kelompok keagamaan yang dapat memperkaya kehidupan spiritual masing-masing.

Berdasarkan hasil penelitian, saran-saran penelitian lanjutan yang dapat diusulkan adalah: Pertama, perlu dilakukan studi lebih mendalam tentang pengaruh Buddhisme pada orang-orang Kristen di Asia, khususnya di Indonesia, dan bagaimana hal ini mempengaruhi interpretasi mereka terhadap teks Alkitab. Kedua, penelitian dapat dilakukan untuk memahami bagaimana dialog antaragama antara komunitas Kristen dan Buddhis dapat meningkatkan pemahaman masing-masing tradisi dan mendorong dialog yang lebih inklusif dan saling menghormati. Ketiga, studi komparatif antara teks-teks suci dari berbagai tradisi agama dapat dilakukan untuk mengeksplorasi tema-tema universal seperti pencobaan dan pencerahan spiritual, serta bagaimana tema-tema ini dapat saling memperkaya dan memberikan wawasan baru bagi pemahaman spiritual.

  1. PERAN ORANG-ORANG TIONGHOA DALAM PEKABARAN INJIL: KAJIAN HISTORIS TERBENTUKNYA JEMAAT TIONGHOA DI JAWA... doi.org/10.37368/ja.v4i1.120PERAN ORANG ORANG TIONGHOA DALAM PEKABARAN INJIL KAJIAN HISTORIS TERBENTUKNYA JEMAAT TIONGHOA DI JAWA doi 10 37368 ja v4i1 120
Read online
File size323.01 KB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test