PANCABHAKTIPANCABHAKTI

International Health Conference STIKes Panca Bhakti (IHCPB)International Health Conference STIKes Panca Bhakti (IHCPB)

Di Indonesia, pendidikan mengenai kesadaran bagi perempuan, khususnya remaja, masih sangat terbatas sehingga banyak remaja tidak memahami dan tidak kompeten dalam mempraktikkan kesadaran. Penyediaan pembelajaran kesadaran sangat diperlukan bagi perempuan, khususnya remaja, karena dengan pembelajaran tersebut diharapkan remaja dapat mempraktikkan dan menjadikan kesadaran sebagai kebiasaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas pembelajaran kesadaran dengan strategi kooperatif model jigsaw dan model STAD terhadap akurasi praktik pada MTs Plus Walisongo. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuasi‑eksperimental dengan desain kelompok kontrol tidak setara. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah non‑probabilitas dengan purposive sampling. Sampel yang diambil berjumlah 60 siswi. Instrumen yang dipakai adalah checklist kesadaran STIKes An‑Nur Husada yang telah dimodifikasi. Analisis data diproses dengan uji Wilcoxon Paired‑Sample dan uji Mann‑Whitney U. Berdasarkan hasil uji Mann‑Whitney, nilai signifikansi (p < 0,001) menunjukkan bahwa model pembelajaran jigsaw lebih efektif dibandingkan model STAD.

Sebanyak 30 siswi yang mengikuti penelitian menunjukkan kriteria buruk pada pre‑test baik untuk model jigsaw maupun STAD.Setelah intervensi, 83,3% siswi pada kelompok jigsaw mencapai kriteria baik, sedangkan hanya 40% pada kelompok STAD.Analisis Mann‑Whitney dengan nilai p < 0,001 mengindikasikan bahwa model jigsaw lebih efektif dibandingkan model STAD dalam meningkatkan kemampuan praktik kesadaran.

Saran penelitian selanjutnya meliputi: (1) melakukan studi komparatif mengenai efektivitas model jigsaw dan STAD pada populasi siswa laki‑laki maupun campuran gender untuk menilai apakah perbedaan hasil yang ditemukan pada siswi tetap berlaku pada kelompok lain; (2) mengevaluasi keberlanjutan peningkatan kemampuan praktik kesadaran dengan melakukan pengukuran kembali setelah tiga hingga enam bulan pasca‑intervensi, sehingga dapat diketahui sejauh mana model jigsaw mempertahankan kebiasaan kesadaran dalam jangka panjang; (3) mengintegrasikan teknologi pembelajaran digital, seperti modul interaktif berbasis video atau aplikasi seluler, ke dalam strategi jigsaw untuk menguji apakah dukungan multimedia dapat lebih meningkatkan akurasi praktik dan motivasi belajar dibandingkan jigsaw konvensional. Penelitian-penelitian ini sebaiknya menggunakan desain eksperimental dengan kelompok kontrol yang setara dan ukuran sampel yang lebih besar serta melibatkan beberapa sekolah di wilayah berbeda, agar hasilnya lebih generalisasi. Dengan demikian, kontribusi ilmiah terhadap pengembangan metode pembelajaran kooperatif dalam bidang kesehatan remaja dapat diperkaya dan diaplikasikan secara lebih luas.

  1. PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR | Kahar | AKSIOMA:... doi.org/10.24127/ajpm.v9i2.2704PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR Kahar AKSIOMA doi 10 24127 ajpm v9i2 2704
  2. Penerapan Model Pembelajaran ARIAS untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa | Jurnal Pendidikan Sains dan... jurnal.itscience.org/index.php/jpsk/article/view/1237Penerapan Model Pembelajaran ARIAS untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Jurnal Pendidikan Sains dan jurnal itscience index php jpsk article view 1237
  3. EFEKTIFITAS PENDIDIKAN KESEHATAN DENGAN MODEL WORD SQUARE TERHADAP KETERAMPILAN PEMERIKSAAN PAYUDARA... doi.org/10.36419/avicenna.v4i1.467EFEKTIFITAS PENDIDIKAN KESEHATAN DENGAN MODEL WORD SQUARE TERHADAP KETERAMPILAN PEMERIKSAAN PAYUDARA doi 10 36419 avicenna v4i1 467
Read online
File size140.41 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test