STTPBSTTPB

KURIOSKURIOS

Kekerasan seksual terhadap anak merupakan krisis global yang menimbulkan trauma mendalam bagi para penyintasnya. Institusi pendidikan Kristiani umumnya merespons melalui intervensi psikologis murni atau pendekatan moralistik-imperatif, yang keduanya menyisakan defisit teologis signifikan. Artikel ini bertujuan mengonstruksi model pembinaan karakter yang khas Kristiani bagi anak penyintas kekerasan seksual, yang berakar pada praksis pemulihan. Menggunakan metode teologis-konstruktif dengan analisis pastoral-hermeneutis, studi ini mendialogkan karya Hauerwas, Jones, Moltmann, Volf, dan Rambo untuk mengembangkan kerangka integratif. Artikel ini berargumen bahwa formasi karakter yang autentik bagi penyintas harus bergerak melalui empat dimensi yang saling terhubung: pemahaman pastoral-teologis tentang trauma, rekonseptualisasi kebajikan yang kristomorfis, praksis pemulihan naratif-embodied, dan komunitas iman sebagai ruang terapeutik-restoratif. Kerangka ini menawarkan alternatif transformatif yang menghormati luka penyintas sekaligus panggilan teleologis mereka menuju keutuhan dalam Kristus.

Artikel ini telah mengonstruksi model pembinaan karakter yang khas Kristiani bagi anak penyintas kekerasan seksual melalui empat dimensi yang saling terhubung.pembacaan pastoral-teologis atas trauma, rekonseptualisasi formasi karakter kristomorfis, pengembangan praksis pemulihan naratif-embodied, dan eksplorasi komunitas iman sebagai ruang terapeutik-restoratif.Model ini menawarkan alternatif yang melampaui pendekatan psikologis-klinis dan moralistik-imperatif, dengan menjadikan praksis pemulihan sebagai locus formasi karakter di mana luka bukan halangan, melainkan ruang di mana anugerah bekerja secara transformatif menuju keutuhan dalam Kristus.Komunitas iman yang menghidupi visi yang mempraktikkan penerimaan radikal, keadilan restoratif, dan pendampingan yang sabar, memiliki potensi yang unik untuk menjadi ruang di mana anak penyintas mengalami pemulihan yang sejati.

Berdasarkan paper ini, beberapa saran penelitian lanjutan yang menarik dapat dikembangkan. Pertama, penelitian kualitatif mendalam yang mengeksplorasi pengalaman anak penyintas kekerasan seksual dalam komunitas iman, dengan fokus pada bagaimana praktik-praktik liturgis dan ritual dapat memfasilitasi proses penyembuhan dan pembentukan karakter. Kedua, penelitian komparatif yang membandingkan efektivitas model pembinaan karakter kristomorfis dengan pendekatan pemulihan trauma yang lebih sekuler, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti tingkat kepuasan penyintas, perubahan perilaku, dan kualitas hubungan interpersonal. Ketiga, penelitian aksi partisipatif yang melibatkan anak penyintas, orang tua, dan pemimpin gereja dalam pengembangan program pembinaan karakter yang responsif terhadap kebutuhan dan konteks lokal, dengan tujuan menciptakan komunitas iman yang lebih aman, suportif, dan transformatif bagi penyintas kekerasan seksual. Ketiga saran ini saling terkait dan dapat saling memperkaya, dengan tujuan akhir menciptakan pendekatan yang lebih holistik dan efektif untuk mendampingi anak-anak yang telah mengalami trauma kekerasan seksual.

Read online
File size327.35 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test