UBTUBT

Jurnal Pengabdian Masyarakat BorneoJurnal Pengabdian Masyarakat Borneo

Infeksi saluran pernafasan akut adalah penyakit terbanyak yang dilaporkan kepada pelayanan kesehatan. World Health Organization (WHO) memperkirakan insidensi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di negara berkembang dengan angka kematian balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15%-20% pertahun pada golongan usia balita. Menurut WHO ± 13 juta anak balita di dunia meninggal setiap tahun dan sebagian besar kematian tersebut terdapat di negara berkembang dan ISPA merupakan salah satu penyebab utama kematian dengan membunuh ± 4 juta anak balita setiap tahun. Tujuan dari Pengabdian Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan ISPA. Metode yang digunakan adalah sosialisasi dengan mengadakan penyuluhan. Pelaksanaan Pengabdian ini di Puskesmas Kapasa Kota Makassar dengan jumlah peserta sebanyak 35 orang ibu. Dari hasil penyuluhan tersebut terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan ISPA sehingga diharapkan kegiatan pelatihan ini dapat dilaksanakan di seluruh wilayah kerja puskesmas dengan dukungan pemerintah.

Dari hasil kegiatan penyuluhan kesehatan mengenai pentingnya pencegahan ISPA di wilayah kerja Puskesmas kota Makassar dapat disimpulkan bahwa setelah dilakukan evaluasi terjadi peningkatan pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki oleh masyarakat dari yang awalnya kurang memahami terkait masalah pencegahan ISPA tetapi setelah mengikuti kegiatan penyuluhan dan mendapatkan penjelasan terkait hal tersebut terjadi peningkatan pengetahuan serta sudah sangat memahami akan pentingnya hidup sehat.Diharapkan adanya dukungan dari pemerintah yaitu berupa media informasi secara berkesinambungan oleh kader posyandu dan poskesdes sehingga masyarakat mendapat informasi secara akurat, selain itu tenaga kesehatan setiap bulannya mengevaluasi hasil kegiatan posyandu, poskesdes terkait masalah ISPA.

Melihat keberhasilan penyuluhan dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan ISPA di satu wilayah kerja puskesmas, penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi efektivitas intervensi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. Pertama, akan sangat bermanfaat untuk meneliti bagaimana program penyuluhan pencegahan ISPA yang mengintegrasikan berbagai metode edukasi, seperti penggunaan media digital interaktif atau simulasi praktis, dapat diterapkan dalam skala yang lebih luas, misalnya di beberapa kecamatan atau kabupaten. Studi ini dapat mengukur tidak hanya peningkatan pengetahuan, tetapi juga perubahan perilaku nyata masyarakat serta dampaknya terhadap penurunan angka kejadian ISPA pada balita dalam periode waktu tertentu. Kedua, penting untuk menyelidiki faktor-faktor yang mempengaruhi keberlanjutan program penyuluhan dan retensi pengetahuan jangka panjang di masyarakat. Penelitian dapat berfokus pada peran aktif kader posyandu dan poskesdes sebagai agen perubahan serta bentuk dukungan pemerintah daerah yang paling efektif untuk memastikan informasi pencegahan ISPA terus diakses dan diterapkan secara konsisten setelah program awal selesai. Ketiga, perlu dipertimbangkan studi perbandingan antara efektivitas metode penyuluhan tradisional dengan pendekatan inovatif yang memanfaatkan teknologi, seperti kampanye edukasi melalui media sosial atau aplikasi kesehatan mobile, khususnya untuk menjangkau kelompok orang tua muda yang lebih akrab dengan teknologi. Dengan demikian, kita bisa memahami metode mana yang paling optimal untuk meningkatkan pemahaman dan mendorong praktik hidup sehat guna mengurangi penyebaran ISPA secara berkelanjutan di masyarakat.

Read online
File size1.59 MB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test