MEDIAPUBLIKASIMEDIAPUBLIKASI

BULLET : Jurnal Multidisiplin IlmuBULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu

Pemasakan buah jambu kristal merupakan salah satu proses terpenting pada buah, yang melibatkan perubahan warna, rasa dan tekstur yang membuat buah dapat diterima untuk dikonsumsi. Beberapa perubahan fisiologis, biokimia dan struktural terjadi selama pematangan buah, termasuk pemecahan pati atau polisakarida lainnya, produksi gula, sintesis pigmen dan senyawa aromatik, dan pelunakan sebagian dinding sel. Pada buah klimakterik, perubahan ini terjadi dalam waktu singkat, dan jambu kristal, yang merupakan buah klimakterik, menunjukkan peningkatan respirasi dan produksi etilen selama pemasakan. Jambu kristal juga mengandung karotenoid dan polifenol yang merupakan pigmen antioksidan utama pada tumbuhan karena memiliki efek obat, buah jambu kristal, daun, akar, dan kulit batang digunakan dalam pengobatan tradisional untuk menyembuhkan gastroenteritis, asma, tekanan darah tinggi, kegemukan, dan diare. Pengamatan buah jambu kristal dilakukan di kebun percobaan IPB Leuwikopo dari bulan September sampai pertengahan Desember 2019. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui analisis kualitas buah jambu kristal. Kesimpulannya Kadar klorofil a, klorofil b, dan karotenoid lebih tinggi pada daun tua dibandingkan dengan daun muda, sementara kadar antosianin pada daun muda lebih tinggi dibandingkan dengan daun tua.

Kadar klorofil a, klorofil b, dan karotenoid lebih tinggi pada daun tua dibandingkan dengan daun muda, sementara kadar antosianin lebih tinggi pada daun muda dibandingkan dengan daun tua.Buah tua lebih lunak pada bagian atas, memiliki diameter longitudinal lebih besar, dan berat lebih tinggi dibandingkan dengan buah muda.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki dasar genetik yang mengatur komposisi pigmen pada jambu kristal, dengan membandingkan beberapa varietas untuk mengidentifikasi gen atau regulasi yang mempengaruhi kadar klorofil, karotenoid, dan antosianin. Selain itu, penting untuk mengevaluasi teknik penyimpanan pascapanen yang dapat mempertahankan kekerasan buah serta stabilitas pigmen selama periode distribusi, misalnya dengan menguji suhu, kelembaban, dan penggunaan kemasan aktif. Selanjutnya, model prediktif yang menghubungkan variabel iklim regional (suhu, curah hujan, intensitas cahaya) dengan tahapan fenologi dan kualitas buah dapat dikembangkan, sehingga membantu petani merencanakan waktu panen optimal untuk menghasilkan buah dengan kualitas terbaik.

Read online
File size587.13 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test