STAIDHISTAIDHI
Dharma: Jurnal Pengabdian MasyarakatDharma: Jurnal Pengabdian MasyarakatDesa Wisata Tanjung Rejo adalah satu-satunya desa wisata mangrove yang ada di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, yang menghadapi tantangan akibat minimnya kesadaran masyarakat terhadap manfaat ekonomi dan ekologi dari pelestarian mangrove. Ketidakpedulian ini diperparah dengan terbatasnya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan hutan mangrove. Program pengabdian kepada masyarakat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran melalui kegiatan sosialisasi partisipatif, termasuk ceramah, diskusi, dan pengembangan rencana aksi kolaboratif. Program ini melibatkan lebih dari 30 peserta, sehingga menghasilkan partisipasi aktif dan antusiasme terhadap upaya konservasi mangrove. Hasil utama termasuk pengembangan rencana aksi pariwisata berkelanjutan yang bertujuan untuk mempromosikan pelestarian mangrove dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui inisiatif ini, para peserta memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang konsep pariwisata berkelanjutan dan menguraikan langkah-langkah yang dapat ditindaklanjuti untuk melaksanakan agenda konservasi di Desa Wisata Tanjung Rejo. Program diakhiri dengan pembuatan rencana aksi yang komprehensif, dengan rekomendasi untuk keterlibatan dan pemantauan masyarakat yang berkelanjutan untuk memastikan keberhasilan pelaksanaan rencana.
Kegiatan sosialisasi di Desa Wisata Mangrove Tanjung Rejo berhasil meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pariwisata berkelanjutan dan menghasilkan rencana aksi, dengan capaian utama berupa peningkatan kesadaran serta keterlibatan.Meskipun demikian, penilaian menunjukkan bahwa sebagian besar kriteria pariwisata berkelanjutan masih belum terpenuhi atau kurang, mengindikasikan tantangan signifikan dalam implementasi di lapangan.Keberhasilan awal didukung antusiasme dan dukungan desa, namun kendala seperti keterbatasan pemahaman dan sumber daya memerlukan pendekatan partisipatif berkelanjutan dan kolaborasi erat antar pemangku kepentingan untuk mencapai standar pariwisata berkelanjutan yang menyeluruh.
Meskipun kegiatan sosialisasi telah berhasil meningkatkan pemahaman awal masyarakat dan mendorong penyusunan rencana aksi pariwisata berkelanjutan, masih banyak aspek yang memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mencapai implementasi yang menyeluruh. Pertama, sangat penting untuk melakukan studi mendalam yang tidak hanya berfokus pada kesadaran umum, tetapi juga mengidentifikasi secara spesifik hambatan-hambatan praktis dan faktor pendorong keberhasilan dalam menerapkan kriteria-kriteria pariwisata berkelanjutan yang belum terpenuhi di Desa Wisata Mangrove Tanjung Rejo. Penelitian ini dapat menyoroti mengapa aspek-aspek seperti pengelolaan limbah, standar keselamatan wisatawan, atau perlindungan situs budaya masih menjadi tantangan, serta mencari solusi inovatif yang sesuai dengan konteks lokal. Kedua, meskipun partisipasi masyarakat telah diupayakan, penting untuk mengeksplorasi model-model keterlibatan yang lebih mendalam, misalnya melalui pendekatan co-management atau pembentukan forum multipihak yang berkelanjutan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana mekanisme partisipasi yang lebih kuat dapat benar-benar mendorong rasa kepemilikan dan pengambilan keputusan kolektif yang efektif dalam pengelolaan ekowisata mangrove. Terakhir, mengingat masalah penebangan mangrove untuk mata pencarian tradisional, penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi dan menganalisis potensi diversifikasi mata pencarian berkelanjutan yang secara langsung mengintegrasikan pelestarian mangrove dengan pengembangan ekonomi lokal. Ini bisa mencakup pengembangan produk olahan dari hasil hutan mangrove yang bernilai tambah, atau jasa lingkungan yang memberikan insentif ekonomi bagi masyarakat untuk menjaga kelestarian ekosistem. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan panduan konkret bagi pengembangan pariwisata berkelanjutan yang lebih kuat dan berdaya tahan di masa depan.
| File size | 218.08 KB |
| Pages | 18 |
| DMCA | Report |
Related /
UPIUPI Pluralisme hukum kepemilikan hutan terjadi karena masyarakat mengklaim kawasan tersebut sebagai tanah Ulayat menurut hukum adat, sedangkan pemerintah menganggapPluralisme hukum kepemilikan hutan terjadi karena masyarakat mengklaim kawasan tersebut sebagai tanah Ulayat menurut hukum adat, sedangkan pemerintah menganggap
APTKLHIAPTKLHI Program ini juga dipersepsi positif oleh masyarakat dalam meningkatkan tutupan lahan, kualitas tanah, kondisi mata air, dan keanekaragaman satwa liar.Program ini juga dipersepsi positif oleh masyarakat dalam meningkatkan tutupan lahan, kualitas tanah, kondisi mata air, dan keanekaragaman satwa liar.
APTKLHIAPTKLHI Analisis bibliometrik menunjukkan peningkatan signifikan jumlah publikasi sejak 2007 dengan puncak pada tahun 2021, yang dipengaruhi oleh stabilitas politikAnalisis bibliometrik menunjukkan peningkatan signifikan jumlah publikasi sejak 2007 dengan puncak pada tahun 2021, yang dipengaruhi oleh stabilitas politik
UNILAUNILA Kebijakan deliberatif dan insentif yang menjanjikan berperan penting sebagai katalis dalam memperbaiki pengelolaan hutan agar berkelanjutan dan memberikanKebijakan deliberatif dan insentif yang menjanjikan berperan penting sebagai katalis dalam memperbaiki pengelolaan hutan agar berkelanjutan dan memberikan
UNILAUNILA Jurnal ini diterbitkan satu volume setiap tahun dengan tiga isu yang terbit setiap Januari, Mei, dan September. Sejak Volume 7 Nomor 3, September 2019,Jurnal ini diterbitkan satu volume setiap tahun dengan tiga isu yang terbit setiap Januari, Mei, dan September. Sejak Volume 7 Nomor 3, September 2019,
UNILAUNILA Sampel penelitian terdiri dari 60 siswa kelas XI di salah satu SMA Negeri di Kota Bandung yang dibagi menjadi kelas eksperimen dan kelas kontrol. DataSampel penelitian terdiri dari 60 siswa kelas XI di salah satu SMA Negeri di Kota Bandung yang dibagi menjadi kelas eksperimen dan kelas kontrol. Data
UNILAUNILA Keterlibatan masyarakat bersifat bottom-up, dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan, hingga pemantauan dan evaluasi. Secara umum, tingkat keterlibatanKeterlibatan masyarakat bersifat bottom-up, dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan, hingga pemantauan dan evaluasi. Secara umum, tingkat keterlibatan
UNILAUNILA Setiap petak dilakukan pengukuran diameter pohon ≥ 5 cm. Masing-masing petak dibuat sub petak pengamatan seresah berukuran 0,5 m x 0,5 m. PerhitunganSetiap petak dilakukan pengukuran diameter pohon ≥ 5 cm. Masing-masing petak dibuat sub petak pengamatan seresah berukuran 0,5 m x 0,5 m. Perhitungan
Useful /
STAIDHISTAIDHI Hasilnya menunjukkan peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengolah produk pertanian seperti tembakau, cabai, dan melon menjadi produk bernilai tambah,Hasilnya menunjukkan peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengolah produk pertanian seperti tembakau, cabai, dan melon menjadi produk bernilai tambah,
STAIDHISTAIDHI Masyarakat kepulauan Seribu selain hidup dari hasil laut atau nelayan juga sudah memulai mengembangkan perekonomian melalui kegiatan wisata, hal ini ditandaiMasyarakat kepulauan Seribu selain hidup dari hasil laut atau nelayan juga sudah memulai mengembangkan perekonomian melalui kegiatan wisata, hal ini ditandai
UNILAUNILA Program Perhutanan Sosial tidak mengubah perilaku petani, dengan monokultur masih dominan meski telah berizin. Agroforestri belum menjamin pemenuhan kebutuhanProgram Perhutanan Sosial tidak mengubah perilaku petani, dengan monokultur masih dominan meski telah berizin. Agroforestri belum menjamin pemenuhan kebutuhan
UNILAUNILA Kondisi serta kualitas habitat sangat menentukan keanekaragaman amfibi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan keanekaragaman jenisKondisi serta kualitas habitat sangat menentukan keanekaragaman amfibi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan keanekaragaman jenis